09 March 2016





Gue dengar, bahwa tulisan seseorang terkadang mewakili isi hatinya. 
Dan karena mungkin tidak ada orang lain yang mampu mengerti perasaannya dengan baik, beberapa individu memilih mencurahkan isi hatinya lewat tulisan.
Sederhana memang, namun kita yang melakukan hal itu merasakan kepuasan tersendiri. 
Untuk hal ini, gue setuju.Namun yang gue tanyakan, adalah bagaimana cara kita bisa membedakan mana tulisan yang benar-benar isi hati, dan mana tulisan yang hanya lahir karena imajinasi.

Hingga pada suatu hari, gue menyadarinya.

Hati memang ajaib, ketika kita membaca tulisan yang memang isi hati, hati kita sendiri mampu melihat dan merasakannya.
Gue gak mampu menjelaskannya dengan cara ilmiah, gambarannya hanya sederhana, semua hati itu berhubungan, seolah memiliki gaya magnetik yang mampu menarik satu sama lain.

Dibawah ini adalah beberapa coretan di buku gue, entahlah, ini termasuk tulisan hati, atau hanya tulisan kosong tak bermakna.
Biarkan hati kita yang menjawabnya.






Entahlah, entah apa yang kurasa sekarang
Hampa, semua terasa hampa
Mungkinkah karena “sendiri

Entahlah, entah apa yang kuingin sekarang
Tawar, semua terasa hampa
Mungkinkah karena “sepi”

Entahlah, entah apa yang kumiliki sekarang
Pedih, semua terasa pedih
Mungkinkah karena “rindu”

Entahlah, entah apa yang kukejar sekarang
Aneh, semua terasa aneh
Mungkinkah karena “penasaran”

Entahlah, entah apa yang kulihat sekarang
Indah, semua berubah jadi indah
Mungkinkah karena “cinta”

Dipojok kelas, juga di balik rak-rak buku,
Aku merindukanmu.


Uin, 1 maret 2016


Secangkir teh cinta hangat, kuhaturkan,
Bukan padanya, ataupun siapa,

Setangkai mawar putih bersih, kuberikan,
Bukan padanya ataupun siapa,

Sepotong cokelat mesra, kusiapkan,
Bukan untuknya ataupun siapa,

Ribuan permen rasa jujur, tulus, juga suci kuhadiahkan,
Bukan padanya ataupun siapa,

Semuanya hanya padamu, juga untukmu
Iya, kamu

Uin, 06 maret 2016
Dalam lensa, kumelihat
Anggun dan halusnya pribadimu,
Dalam lensa, kumendengar
Langkah teduh dan sejuknya pandanganmu
Dalam lensa, kumerasa
Sosok indah karya surge di mata hawa

Apakah hanya aku yang melihat, mendengar, juga merasa?
Tidak!
Anginpun berbisik mesra padaku
Langit juga berteriak syahdu padaku
Tentang kamu, yang terbaik dan terindah.
Semuanya tau itu,

Namun, hanya dalam khayal aku mampu menggapaimu,
Kupeluk mesra namamu dalam tidurku
Wahai gadis yang bersembunyi di balik lensa

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts