21 April 2016

  



Hanya seperti angin yang berhembus sesuai dengan  jalurnya,

Jari ini juga  sekedar menyapa sesuai ingin-nya

Tentang dia,

Bagaikan kopi hitam yang memiliki rasa dan aroma yang khas

Gadis ini, juga memilik citarasa yang khas

Senyumnya, semanis espresso


Senja saat itu enggan menyapaku dengan riang seperti biasanya.


Seolah bersedih, langitpun menangis deras, menyembunyikan jingga bahagia sang senja.


Sore itu, pukul 05:00 sore, aku masih berteduh sambil berduduk sila di basement  fakultas, menunggu hujan reda, untuk segera pulang ke asrama. Namun entahlah, sepertinya hujan saat itu hendak  membuatku terlambat pulang.


Melamunkah?, mungkin bisa dibilang seperti itu, namun biar agak sedikit gokil, saya lebih senang menyebutnya dengan mengkhayal. Mengkhayal tentang apa saja, dan yang paling sering-ketika hujan turun- saya lakukan adalah mengkhayal dan mengingat tentang masa lalu. Karena memang dari dulu sampai sekarang ada satu pertanyaan yang belum mampu saya jawab secara logis, entahlah,


mengapa hujan itu selalu identik dengan kenangan???


Khayalanku pun saat itu terus berlanjut, kemudian semakin mendalam, hampir serasa tenggelam di dalamnya.




Hinga tepat pukul 05.30, hujanpun mereda, hanya tinggal rintik-rintik kecil yang menyapa seolah malu-malu, ataupun mungkin juga, ragu-ragu. Membuyarkan khayalanku, untuk kemudian tersadar kembali ke dunia yang lebih nyata.


Akhirnya langkahku pun kembali berani untuk maju, untuk pulang ke asrama, lebih tepatnya pulang ke dalam rutinitas yang selalu sama seperti biasanya.-mengaji, belajar, tidur, makan dll.

Asramaku pun tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu 15 menit ketika berjalan cepat, dan 30 menit ketika ngelod.

Ditemani rintik-rintik halus itu, aku melangkah pasti, berjalan seeperti biasanya, yakni,seolah seperti orang yang sombong, yang so’soan menantang gagahnya  kota metropolitan.






“ceeep”…


Dari belakang terdengar suara halus yang seolah berbisik mesra. Namun sebenarnya itu hanya sebuah sapa biasa, hanya bayanganku saja yang agak terbawa suasana.


“iya,!”,



Aku langsung menengok.

Ternyata dia adalah Sarah, teman satu jurusan.


Sedikit tentangnya,

Sarah adalah gadis yang sangat jenius, -sekilas memang tampak jelas dari kacamata yang dia kenakan, dan karena kacamatanya pula, dia terlihat sedikit lebih sexy. Wow.
Gadis yang sangat gesit, ramah, baik hati, juga rajin menabung. Dan ada satu hal yang tidak dimiliki gadis lain selain dia, yakni senyum khas espresso-nya.

Ada satu hal yang menarik dari senyumnya; terasa sangat manis namun tak mampu digambarkan secara logis. Hanya saja, nyaman dan damai yang dirasakan, ketika seseorang, siapapun itu, melihat senyuman itu. termasuk aku.

Kami saling kenal, kurang lebih 8 bulan yang lalu, karena memang saat itu, kami daftar masuk kampus lewat jalur yang sama. –BLU, gagal.


“mau pulang ceep? Tungguin dong!.


Iya, Ayo!, jawabku pasti.


Karena memang kami pulang ke arah yang sama.

Sambil melangkah ditemani dinginnya suasana jalan yang baru diguyur hujan deras, kami pun tenggelam dalam obrolan sederhana, atau mungkin basa-basi sederhana.


Hanya sekedar bertanya tentang kabar, pengalaman masing-masing, dan hal-hal sederhana lainnya.

Sampai pada saat kami baru menempuh separuh perjalanan, dia bertanya sesuatu, sekaligus menjawabnya. Jawaban yang akan selalu kuingat.



“eh ceep, btw, kamu tau gak mengapa hujan itu selalu identik dengan kenangan,?



“Kenapa ya?? Hehe.. mungkin karena memang hujan itu terbentuk dari 1% air, dan 99% kenangan”.



Jawabku spontan, hanya sekedar menjawab asal, dan memflagiat kata-kata yang tertulis di meme-meme yang sedang merajalela di instagram.

ah kamu, ada ada aja”..

tanggapnya datar, dengan bibir yang sedikit tersungging keatas, seolah ingin tersenyum, namun tertahan.

“klo menurut aku sih, karena memang, hujan dan kenangan itu sama”. Dia meneruskan


“sama dari segi apanya?”,tanyaku heran dengan memasang wajah yang blo-on,(atau memang dari awal wajah saya udah blo-n)


Dia pun menjawab;



“ya sama, ketika hujan atau kenangan datang, bagaimanapun juga, kita tidak bisa mencegahnya, keduanya akan selalu menetes menghampiri kita”.


Sejenak ku tertegun, mencoba memahami jawabannya kata demi kata.


Kemudian kutemukan jawaban dari pertanyaanku selama ini, secara mendadak kenangan-kenangan itu kembali terbayang, bagaikan film lama yang baru saja diputar kembali.
Kenangan tentang patah hati dan pengkhianatanpertama, tentang dia si cewek salmon, tentang si mawar merah, tentang si ratu ospek, dan yang terakhir, tentang dia si perempuan dengan nama yang di-tashgir.


Dari jawaban Sarah aku sadar, seberapapun kita mencoba untuk melupakan sebuah kenangan, entah itu manis ataupun miris, kita tidak akan pernah mampu melakukannya. Namun biarkan lah hal-hal itu tetap mengalir bersama langkah-langkah kita, kemudian kita belajar darinya untuk meniti langkah baru di depan, yang tentunya lebih cerah.


“ceep!”, kamu kenapa, ko malah melamun.?



“ehh, iya-iya sorry,gak kenapa-napa ko, aku setuju sama jawaban kamu Sarah” .jawabku, sedikit terkejut.


“oh, kirain kenapa”..
 


www.bekasiurbancity.com


Sore itu, kami-pun lanjut berjalan, sambil terus tenggelam dalam obrolan hangat tentang hal-hal seputar kita berdua. Terkadang kami pun tertawa terbahak-bahak, ketika membicarakan kebodohan-kebodohan kami sendiri.
Hingga akhirnya kami harus berpisah di satu belokan, karena dia sudah sampai ke tempatnya. Tempatku pun sudah tiak jauh, hanya membutuhkan waktu sekitar 4 menit lagi untuk sampai.



Orang bilang, ketika sedang turun hujan atau ketika suasana dingin , maka hal yang paling enak untuk dilakukan adalah minum kopi.
Aku pun mengangguk setuju akan hal itu.

Sore itupun aku merasakan hal yang sama.
Ketika berjalan bersama Sarah dengan senyuman-senyuman manisnya itu, aku seperti sedang menikmati secangkir esppresso.

Ketika kopi mampu membuat badan ini hangat, maka senyuman Sarah mampu membuat hati ini hangat.Perempuan sekaligus  teman yang sangat spesial, yang sangat berharga, dengan senyuman manis yang khas. Sarah, si gadis kopi hitam.

Akankah setiap rabu sore berjalan terus seperti itu,,? Biarkanlah secangkir kopi yang menjawabnya.





Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts