05 April 2016






“Pondok pesantren”

Kata itu mungkin memang tidak asing lagi di telinga kita.
Suatu lembaga yang mendidik juga mengajarkan santri-santrinya tentang ilmu agama, tentang membangun karakter, tentang al-akhlaq al-karimah.
Hematnya, pondok pesantren adalah lembaga yang paling tepat sebagai wadah pembelajaran di zaman globalisasi seperti sekarang ini.

Mengapa dikatakan paling tepat? Karena memang di pondok pesantren juga lah, para santri diajarkan tentang uluum ad-din dan uluum ad-dunya, tentang hablun min alloh juga hablun min an-nass.
Sistem pondok pesantrenpun semakin ke sini semakin berkembang, ada yang disebut pondok salafi, ada yang di sebut pondok modern, dan juga pondok salafi modern.
Namun disini, kita tidak akan membicarakan hal pelik seperti itu, namun tentang satu hal yang sangat familiar, sesuatu yang mungkin boleh disebut ma’luman min ad-diin bi ad-dhoruuroh. Yakni

“CINTA”

Cinta adalah sesuatu yang abstrak, cinta adalah sesuatu yang dimiliki semua orang.
Ahh,,sudahlah,,
Jutaan kata pun tidak akan cukup untuk mendefinisikan apa itu cinta.
Karena pandangan tentang cinta akan selalu berbeda atau bahkan berubah-ubah, tergantung dari sudut mana seseorang  melihatnya.


Misalkan, seseorang yang baru patah hati, akan berkata bahwa “cinta itu buta, cinta itu bagaikan racun berbisa, janganlah percaya akan cinta, atau hatimu akan habis digerogoti perlahan olehnya.
Orang yang lagi kasmaran akan berkata seperti ini “cinta adalah anugerah terindah yang diturunkan oleh sang pencipta, cinta adalah obat dari berbagai macam sakit dan derita yang ada, cinta adalah satu bagian dari taman surga, cinta adalah cerita terindah yang pernah ada.


Dan mungkin, orang yang polos semacam saya hanya akan berkata bahwa “cinta itu, kamu



Lalu bagaiamana ketika cinta itu datang di tempat yang tidak memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang??

Yap begitulah, inilah yang akan kita bahas,

“kisah cinta di pondok pesantren”

Tentang bagaimana cara kita bersikap tatkala cinta itu datang, tentang bagaimana kita  menentukan sebuah pilihan, menyambut dan memperjuangkan cinta itu, atau sejenak mengabaikannya untuk dipersiapkan di waktu yang seharusnya, kelak.


PILIHAN PERTAMA: menyambut cinta itu secara bijak.


Ada beberapa qaidah yang harus diperhatikan dalam pilihan pertama ini.


Membedakan antara benar-benar cinta atau hanya sebatas penasaran.

Karena ternyata ada banyak sekali spesies yang seperti saya, laki-laki/santri yang sangat mudah sekali untuk suka dan tertarik sama seseorang, namun terlalu bodoh untuk mampu membedakan antara suka yang didasari atas cinta dan suka yang  hanya sebatas rasa penasaran di hati.
Hingga akhirnya setelah rasa penasaran itu telah terpenuhi, maka perlahan rasa suka itupun hilang.

2.      Buatlah tujuan dan planing yang jelas, jika memang benar itu adalah cinta.

Ketika kita sudah yakin bahwa itu memang cinta, maka perlahan buatlah tujuan yang jelas dengan cinta kita itu. Mengapa? Karena ketahuilah gaess, ketika kita sudah jatuh cinta untuk yang pertama kali, maka kita akan merasa ketagihan dengan cinta itu dan melupakan hal yang lainnya.
 Oleh karena itu, buatlah tujuan dan planning agar cinta kita itu bukan malah menjadi boomerang bagi cita-cita kita, melainkan menjadi pendongkrak untuk menggapai cita-cita itu,
Semisal, kita mempunyai tujuan agar lebih bersemangat dalam belajar, maka dalam setiap surat yang kita tulis, atau pesan yang kita sampaikan itu, membahas tentang keilmuan, karakter, pandangan hidup, bukan hanya sekedar kata-kata alay, yang melebih-lebihkan kata suka.
Juga buatlah planing kedepan, bukan hanya memikirkan enak di waktu sekarang saja, tapi juga memikirkan masa depan, jika memang rasa itu adalah cinta.

3.      Ungkapkan cinta itu, dengan apa adanya

Selanjutnya, ketika kita sudah punya tujuan dan planing dari cinta itu sendiri, maka ungkapkanlah cinta itu.
Karena di pondok pesantren itu tidak boleh membawa HP, maka ungkapkanlah rasa itu lewat surat yang kita buat dengan penuh rasa percaya diri namun apa adanya.
Mungkin sebagian dari kita (santri), berfikir bahwa lawan jenis kita itu lebih suka dengan kata-kata yang puitis.
Padahal itu merupakan kesalahan yang besar, karena sebenarnya, semua orang itu sama, hanya menyukai ungkapan yang jujur, dan apa adanya, tanpa melebih-lebihkan.
Maka, buatlah surat cinta itu dengan menjadi diri sendiri, jangan seolah menjadi orang lain.

4.      Jalanilah cinta itu sebagaimana air mengalir, yang tak pernah keluar dari jalurnya.

Ketika cinta sudah di genggaman kita, maka tuntunlah dia di jalan yang benar, dengan tidak melanggar norma norma agama. Hingga pada akhirnya, sang waktu yang akan menjawab misteri hubungan cinta itu, tentang cinta yang memang berjodoh, atau cinta yang hanya menjadi pembangun jiwa dan pengalaman belajar untuk cinta yang lain yang bejodoh.


Yap, itulah qaidah-qaidah untuk pilihan pertama.


PILIHAN KE DUA: mengabaikan cinta itu, untuk kemudian mempersiapannya di waktu yang seharusnya.

Ini adalah pilihan yang menurut saya paling bijak, namun tentunya ini agak sulit.
Ada beberapa qaidah juga yang harus diperhatikan di pilihan kedua ini.

1.      Buatlah kesibukan yang bermanfaat dengan tujuan Positif

Ketika rasa cinta itu datang, sebagaimana pun kita berusaha, maka kita tidak akan mampu membuangnya.
Namun, kita bisa melupakannya atau mengalihkannya untuk sementara dan kemudian terbiasa.
Diantaranya, buatlah kesibukan dengan teman, atau kesibukan dalam memperdalami suatu disiplin ilmu, karena ketahuilah, ketika kita sudah tertarik dengan suatu ilmu, ketika semakin banyak yang kita pelajari, maka semakin bertambah pula rasa ingin tahu dan candu kita pada bidang ilmu tersebut.
Tujuannya apa? tidak lain adalah untuk mempersiapkan diri kita menyambut cinta itu kelak.

2.      Persiapkan diri kita sebaik mungkin

Qaidah kita yang terakhir, adalah mempersiapkan diri kita untuk menyambuat cinta itu pada waktunya kelak. Sehingga kita bukan hanya menjadi orang yang mencinta, namun juga mejadi orang yang pantas untuk cinta.
Karena percayalah, semakin baik kualitas diri kita, maka semakin baik pula kualitas cinta yang akan kita dapat.
Karena Alloh S.W.T, maha tau tentang apa yang pantas bahkan terbaik buat kita.


Yap, mungkin itulah, 2 pilihan yang akan muncul ketika para santri jatuh cinta.

Mana yang lebih unggul? Entahlah.. karena masing-masing dari kita punya pemahaman dan kemampuan yang berbeda.

Terakhir, saya akan menulis sebuah pesan sederhana

Tuntun dan kuasailah cinta kita, jangan sampai cinta yang menguasai kita”



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts