08 April 2016



Tidak terasa, waktu berlari begitu cepat meninggalkan warna-warni cerita yang berkembang menjadi sebuah kenangan. Entah itu manis, atau bahkan kenangan yang miris. Semuanya mengalir rapi di alur kisah yang tertulis dalam skenario maha maha hebat karya Sang Pengatur Waktu.
Iya, semua mengalir indah, begitu juga tentang kisah itu,
Kisah unik gadis berkacamata dengan sejuta pesona.

“Airin”, begitulah aku memanggilnya, perempuan unik yang selalu tersenyum.
Semuanya berawal serba sederhana, pertama kali aku melihatnya adalah kurang lebih 8 bulan yang lalu, tatkala ospek masuk salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Saat itu kami sama-sama terlambat, dan sama-sama mendapatkan hukuman.
Seseorang akan menemukan kesan awal saat berjumpa dengan orang lain tatkala pertama kali bertemu. Entah kesan yang bagus yang disukai, atau sebaliknya.

Hingga sampai di pertemuan-pertemuan berikutnya ketika sudah mulai merasa akrab, kita akan merasakan sebuah perbedaan yang sangat mencolok dengan kesan pertama itu, bahwa orang tersebut tidak seperti dugaan kita semula. Bisa jadi lebih baik dari apa yang kita duga di awal, atau mungkin kita akan merasa ilfeel.

Begitu juga dengan Airin,
Semula, aku melihatnya tidak jauh beda  denganku, sosok pendiam juga pemalu. Namun mungkin bedanya, dia diam dan malu dengan cara yang anggun dan imut, sementara aku diam dan malu dengan cara yang amit.

Pertemuan perdana itu secara otomatis membuatku mengingat sosok mawar yang indah. Sama seperti Airin, mawar ini sangat pendiam namun diamnya itu manis. Mawar ini langka sekali untuk bersuara, namun suaranya begitu merdu. Mawar ini selalu mekar sepanjang waktu, bahkan tatkala bunga yang lain layu, patah, lalu mati.

Namun sayang, mawar itu telah dipetik.


Saat itu, sejenak kuberpikir, apakah sang waktu menawarkan sekuntum mawar baru untukku?..  hingga perlahan sang waktu pun membuka tirai misterinya dengan cara yang bisa disebut  kejutan aneh namun indah.

Seminggu menjalani ospek bersama macam-macam orang dengan berbagai karakter membuatku tau akan satu hal, “aku tertinggal begitu jauh di belakang mereka”. Begitu juga di belakang Airin.
Yah, seminggu yang bisa dibilang indah untuk mampu bersua dengan mawar yang baru saja mekar.


Hingga sampai pada ospek hari terakhir, saat itu akan dipilih king/queen dari peserta ospek. Perlahan namun pasti, nama-nama orang yang aktif dan antusias selama ospekpun dipanggil untuk maju ke panggung utama, guna diberlakukannya seleksi dengan menilai sejauh mana kemampuan mereka untuk berdialektika dan mengemukakan pendapat.

Saat itu, kurang lebih ada 30 orang yang berada diatas panggung utama. Namun sebelum seleksi dimulai, panitia menawarkan kepada peserta yang lain yang sekiranya mempunyai potensi dan kemauan untuk maju ke depan guna mengikuti seleksi menjadi raja atau ratu ospek.

Saya? Sudah sangat tertebak, bukan saya orang yang maju ke depan. Saya hanya orang yang menyimak.

Bukan karena takut, malu, atau apapun itu. Namun terlebih karena memang tidak mampu.

Beberapa orang dari berbagai penjuru ruangan pun melangkah maju dengan pasti.
Dan saat itu, Airin berada diantara mereka. Melangkah secara pelan menuju panggung utama, kemudian berbaris rapi bersama mereka para ksatria dan para putri yang bersaing merebut tahta mahkota.
Sejenak merasa terkejut, bunga mawar yang pemalu itu ternyata lebih pemberani dari pada orang yang mengaguminya. Sang mawar pendiam itu menyebarkan aromanya.

Seleksi pun dimulai, satu persatu para ksatria itu maju, untuk berdialektika kemudian mendapat beberapa butir pertanyaan hangat dari dewan juri.
Hingga Airin pun maju,


Lalu keterkejutanku pun semakin bertambah,karena suara sexy nya saat mengemukakan pendapat, kelihaiannya dalam merangkai kata-kata yang padat, jelas, namun begitu indah.
Mimik muka yang melengkapi cerdas dan jenius pemikirannya.
 Dan masih banyak lagi hal yang dia miliki yang merupakan hal-hal istimewa.
Semuanya membuat ku olohok tak percaya.


Airin, dia memang sama seperti sang mawar. Bahkan Airin memiliki satu hal yang tidak dimiliki sang mawar, “keberanian” .

Audisi pun berakhir.

Airin?? Dia tidak berhasil menjadi ratu ospek, tapi dia telah berhasil menjadi ratu di hati ini.
Ratu yang mungkin memang tidak akan pernah mampu untuk diraih, namun akan selalu ada untuk menjadi sebuah panutan. Setidaknya untukku
.
Hingga akhirnya aku menyadari satu hal, Airin sama sekali tidak sama dengan sang mawar, tapi dia lebih tepat untuk dikatakan sang melati yang indah dengan caranya sendiri.

Ketika kesan awal adalah sekuntum mawar, maka  kesan selanjutnya adala sekuntum bunga yang sama indah nya, sama harumnya, namun dia memiliki sedikit keistimewaan lain dibanding sang mawar, sang melati sama sekali tak berduri dan belum dipetik. Dan entahlah, pada akhirnya aku tak tau siapa yang akan memetiknya, yang jelas pasti orang yang sangat hebat.

Dan aku, hanya berusaha saja untuk mungkin masuk pada kategori orang hebat itu, walaupun kemungkinannya hanya satu persen.


Delapan bulan telah berlalu,

Semenjak kejadian itu hingga sekarang, dia selalu menunjukan kejutan-kejutan yang sangat indah pada dunia, tentang prestasinya, keberaniannya dan mungkin juga kecantikannya.

Semenjak kejadian itu hingga sekarang, aku selalu menjadi orang yang termotivasi olehnya, mencoba untuk sedikit lebih berani, mencoba untuk mengejarnya, walaupun sebenarnya kusadari satu hal, bahwa aku akan selamanya berada di belakangnya.

Semenjak kejadian itu hingga sekarang, aku selalu mencoba untuk sedikit demi sedikit menabung berberapa hal, prestasi, intuisi dan entahlah apa saja apapun itu

Semenjak kejadian itu hingga sekarang, aku selalu dan tetap memanggilnya ratu.










                                                                                                                          






Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts