09 May 2016





Barangkali, menulis adalah menyapa.
Dia, hanya dia,
Secarik kisah di balik nada,
Seraut wajah penuh pesona.
Sebutir senyum manis penuh arti.

Barangkali, menulis adalah menyapa.
Walau tangan tak mampu meraihnya
Walau mata tak mampu menangkapnya,
Walau rindu tetap tak memunculkannya.
Namun, namanya selalu terlukiskan embun pagi.

Barangkali, menulis adalah menyapa.
Sederet rasa aneh datang menyiksa mesra, tatkala angin sebutkan namanya,
Bahkan angin berbisik rayu, agar tangan ini  goreskan pena,
Atau mungkin lisan ini ungkapkan sapa nyata.
Hujan sore haripun ramai mengangguk tanda setuju.

Barangkali, menulis adalah menyapa.
“hey”!!!, ingin rasanya membuka suara,
Bahkan lebih dari itu, ingin kuterbitkan sebuah sapa.
Atau bahkan, ingin kupeluk mesra namamu dengan nyata.
Namun apalah daya, dinding itu terlalu angkuh juga menjulang tinggi.

Barangkali, menulis adalah menyapa.
Bukan karena  deretan badai,
Atau mungkin benteng masada yang membentang sangar.
Namun lidah ini kaku, tangan ini demam,
Bahkan logika ini lenyap tatkala ingin ku salami-mu


Barangkali, menulis adalah menyapa.
Pernahkah kamu dengar tentang rangga dengan cinta?
Katanya, mereka saling menanti di bawah satu purnama.
Lebih dari itu,
Tangan ini ‘kan menantimu walau dengan jutaan purnama.

Barangkali, menulis adalah menyapa.
Layaknya  ucap tokoh sang pujangga
“Hati ini bagaikan selembar daun yang melayang, jatuh di rumput
Biarkanlah sejenak aku berbaring di sini
Sebelum kau sapu kembali halaman itu”.

Barangkali, menulis adalah menyapa.
Menyapa cinta, di balik lensa.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts