05 August 2016

Yap, seminggu terakhir ini gue udah balik lagi ke Ciputat, tentunya untuk belajar, mencari ilmu dan pengalaman. Semoga saja di semester yang baru ini, semangat, kemauan juga usaha dalam perjalanan ini semakin besar dan menggebu. Di semester yang baru ini juga, secara tidak  langsung angkatan gue udah jadi kakak kelas untuk angkatan semester satu, yaa mudah-mudahan saja kita bisa menjadi contoh yang baik, walaupun tentunya kita sendiri bukan orang yang selalu baik.

            Hari senin kemarin, tepat tanggal 01 Agustus 2016, gue jalan berdua sama temen cewek gue, sebut saja namanya “Nur”. Kami berencana untuk nonton bareng. Sehabis zuhur, gue langsung jemput dia dengan motor butut milik sahabat gue, untuk kemudian cuss ke bioskop. 

            Nur adalah temen satu kelas gue di kampus, dan kebetulan rumahnya juga di sekitar daerah kampus sehingga gue pun dengan mudah ngontek dia, di saat teman-teman yang lain masih pada liburan dan menghabiskan waktu di rumah mereka masing-masing. Nur adalah gadis yang baik, sopan , rajin, aktif, dan tentunya juga lumayan cantik. Kami sudah beberapa kali nonton bareng, tak hanya berdua namun juga dengan teman yang lain.  Namun sayangnya dua temen gue yang lainnya gak bisa ikut, karena masih liburan. Colek “ka chan” dan ‘endaw”.

            Film yang kami pilih adalah filmnya Raditya Dika yang terbaru yang diadaptasi dari bukunya sendiri yang berjudul sama, yakni “koala kumal”. Kebetulan gue dan Nur sendiri merupakan penggemar beratnya Radit. Koala kumal adalah buku dan sebuah film yang bertema tentang patah hati. Entah mengapa, tema-nya sama seperti suasana hati gue selama setahun terakhir ini.

            Kamipun datang tepat sepersekian detik sebelum filmnya dimulai. Setelah membeli tiket, kami langsung masuk. Saat itu penonton lumayan sepi, karena memang saat itu adalah tepat sebulan setelah film itu pertama kali tayang. (ternyata, kita adalah penonton yang telat,wkwk). Kemudian kami duduk di kursi yang paling belakang.
             Hingga akhirnya kami  asyik menonton..
Seperti yang gue kira, filmnya Radit selalu menyuguhkan cerita yang unik, jenaka, bahkan gila, namun selalu filosopis juga mengandung pesan. Dan entah mengapa, setiap materi dan tema yang ditampilkan, selalu “kena” dan menyentuh kondisi emosional yang dirasakan semua penonton, termasuk gue dan Nur.
Dan setelah nonton film ini gue juga sadar akan banyak hal.
Hal yang selama ini gue lakuin, yang ternyata itu salah dan harus gue rubah.
Diantaranya gue sadar bahwa;
-          Kita memang boleh merasakan patah hati, namun kita gak boleh menutup hati kita untuk orang lain.
-          Patah hati adalah satu fase dimana kita bisa memilih dan menentukan jati diri kita setelahnya. Namun pilihan yang paling tepat adalah belajar darinya kemudian DEWASA.
-          Semua yang terjadi tentunya mempunyai alasan.
-          Mungkin memang rasa sakit dan kekecewaan yang terjadi ketika terjadi sebuah pengkhianatan akan sulit untuk dilupakan, dan itu tak apa-apa. Karena hal itu bukan untuk dilupakan namun untuk dijadikan pelajaran.
-          Ketika terjadi perpisahan, janganlah membenci orangnya namun bencilah perpisahannya. Sama seperti ketika ketika merindu, ternyata kita hanya merindukan kenangannya bukan orangnya.
-          Tidak ada yang kebetulan, namun disetiap kebetulan yang terjadi pasti menyimpan alasan.

Dan masih banyak lagi pesan yang bang Radit sampaikan dari filmnya yang akhirnya membuat gue buka mata. Tentang bagaimana kita harus bangkit dan sembuh dari sebuah patah hati terhebat yang pernah kita alami. So, gue juga harus bisa bangkit dari patah hati terhebat yang gue alami 2 tahun yang lalu, walaupun memang sebenarnya gue sudah terbiasa meskipun belum sembuh dan move on seutuhnya. Karena memang beberapa luka akan sembuh sendirinya seiring berjalannya waktu.

            Setelah selesai nonton, kamipun mampir dulu ke Gramedia sebelum akhirnya pulang kembali.  Pada hari itu saat kita pulang, ditengah obrolan kesana kemari dengan Nur, gue sejenak tertegun. Sama halnya dengan gue yang pernah ngerasain patah hati terhebat di masa lalu, mungkin nur juga pernah, atau mungkin memang semua orang pernah mempunyai satu patah hati terhebat dalam hidupnya. Dan satu hal yang ingin gue tau, bagaiman cara Nur untuk sembuh dari patah hatinya.

            Setelah sampai di depan rumahnya,  Nur pun turun, dan gue pun pamit, dan sepersekian detik sebelum gue menarik gas dan langsung cuss, gue setengah berbisik pada Nur;
“terimakasih untuk hari ini”.


Reaksi:

2 comments:

Total Tayangan

Popular Posts