18 October 2016



Sebelum gue mulai, ada satu kalimat yang ingin gue tulis buat para adek kelas;

"Di asrama kita banyak cewek cantik, tapi ingatlah, anak-anak kita kelak gak hanya butuh ibu yang cantik, tapi juga terdidik".

...


"Wanita cantik itu yang kayak gimana sih??"

Kata diatas adalah pertanyaan yang diajukan salah satu adek kelas gue ketika kita sedang berdiskusi malam. Masing-masing orang di kelompok diskusi gue mengemukakan pendapat mereka tentang bagaimana kriteria cewek yang cantik itu. Tentu saja jawabannya beragam, karena memang kata "cantik" itu sendiri bersifat relatif.

Lantas, "cantik" menurut kriteria gue kayak gimana???

Hemat gue, wanita cantik adalah wanita yang apa adanya. Wanita yang tetap menjadi dirinya sendiri. Tepatnya, wanita yang sederhana.
Dan ada satu hal lagi yang membuat wanita bisa menjadi cantik maksimal, ( tentu saja, menurut gue ) yakni wanita yang pendiam -dalam artian gak banyak bicara- dan meneduhkan pandanganya, kemudian memiliki seyuman manis yang luar biasa.

Sederhananya, wanita yang gue suka adalah wanita yang seperti itu, wanita kalem yang memiliki senyuman manis .
Dan jika dikerucutkan  lagi, maka menjadi seperti ini;

"wanita cantik=wanita yang kalem".

Kemudian teori gue diatas,  didobrak oleh satu kejadian menarik seminggu yang lalu. Antara gue dan salah satu wanita (yang ternyata) cantik.

Singkatnya seperti ini;

Beberapa minggu terakhir, gue dan temen-temen kebetulan menjadi panitia acara tahunan di asrama. Tentunya  kita semua punya tugas masing-masing, juga pastinya dituntut untuk saling bekerja sama. Tugas gue sendiri adalah mengonsep jalannya acara, dan sangat logis jika tugas ini menuntut gue untuk meminta bantuan pada setiap divisi yang ada. So, di panitia gue menjadi orang yang paling cerewet dan sering minta bantuan (baca: "nyuruh-nyuruh"). Tapi gak sekasar itu juga sih.


Disatu waktu, gue meminta bantuan (memberi tugas) pada seseorang cewek yang memang ahli dalam bidangnya. Dan gue merasa,  itu adalah hal wajar. Dia juga menyanggupinya. Beberapa hari kemudian, ketika kita gak sengaja berpapasan, gue pun menanyakan (baca; menagih) tentang tugas itu. Gue bertanya dengan wajar dan dengan sikap yang seperti biasanya.

Namun, dia merespon dengan sikap yang berbeda, dia MARAH-MARAH. Dia ngomel-ngomel sambil berdalih dengan sesuatu yang gak jelas. Sekitar 3 menit, dia  terus ngelantur gak jelas. Dan gue?  gue hanya memperhatikan sambil tersenyum tipis. Yah, sikap gue memang seperti itu, gue gak mau ribet, gue berfikir lebih baik diam aja. Setelah dia berhenti ngomel, gue pun berkata dengan pelan sambil nyengir gak jelas.
"makasih ya".  
Gue berpaling dan beranjak pergi,
dia hanya tertegun.

...

Kisah yang biasa saja memang, namun ada hal menarik yg gue perhatikan tatkala dia marah-marah. Dia tetap menjadi dirinya sendiri, dia tidak menjadi pribadi yang lain.  Dan hal itu adalah hal yang gak bisa gue dan mungkin orang lain lakuin. Pada dasarnya, ketika kita marah, terkadang kita berubah menjadi sosok yang tidak seperti biasanya. Tapi dia beda, dia tetap cantik dalam artian tetap menjadi pribadinya sendiri.

Kejadian itu telah berlalu, kemudian sikap gue dan dia gimana?
Seperti biasa, gue selalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia?. Entahlah, dia mungkin masih marah dan gak mau berkomunikasi dengan gue.  Tapi itu gak masalah. Dan kabar "tugas" itu gimana? Tugas itu belum selesai. Sungguh menyedihkan.

Seenggaknya, ada pelajaran yang gue dapet dari dia dan kejadian itu.
Jika anggapan gue semula, “cewek cantik adalah cewek yang kalem”, maka pada satu sisi yang lain, akan tiba masa dimana cewek cantik adalah cewek yang galak.

Sungguh mengerikan.


Reaksi:

1 comment:

  1. Yuk Gabung Bersama Kami Hanya di RoyalQQ

    Minimal Deposit Hanya Rp 15.000
    Bonus TO 0.5% Dibagikan SETIAP HARI

    Yuk daftarkan sekarang juga hanya di www.royalqq.com

    JACKPOT menanti anda^^

    ReplyDelete

Total Tayangan

Popular Posts