18 October 2016




"Butuh pencerahan"

Itulah bahasa yang biasa kami gunakan ketika sedang mengalami suatu masalah, suatu kegelisahan, kejenuhan atau hal-hal kurang menarik lainnya. Mencari pencerahan bagi gue adalah mencari nasihat atau cerita dari orang-orang yang menurut gue cocok.
Dalam beberapa minggu ini, gue kembali bertingkah bodoh. Gue belum tau bagaimana cara menentukan sikap yang baik dan benar. Sikap yang seenggaknya mampu membuat semua pihak merasa nyaman. Dan pada malam minggu kemarin, gue berburu pencarahan tentang bagaimana gue bersikap kedepan. Dalam hal ini orang yang gue anggap cocok adalah teman sekaligus senior gue, "wali". Seseorang yang wara' dan aliim.

Sekitar pukul 12 malam, saat yang lain sedang sibuk berlayar di lautan mimpi, gue dan wali duduk bersila di emperan depan masjid. Ditemani satu gelas kopi hitam, dan satu cangkir susu putih. Kita membicarakan banyak hal, tentang kisah gue, kisah dia, juga kisah dia-nya gue dan dia.
Dari obrolan-obrolan malam itu, setidaknya gue sadar akan satu hal, bagaimana dia memandang masalah yang gue alami dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang lebih bermakna, pandangan yang membelokan pandangan gue yang dulu yang ternyata salah. Walaupun dulu, gue menganggap pandangan gue itu benar.

Mungkin gue gak akan menceritakan hal-hal menarik yang gue diskusikan bersama wali disini, karena beberapa kejadian di hari-hari ke belakang mengajarkan gue satu hal, "sesuatu yang menarik tak selamanya pantas untuk diceritakan". Namun, gue akan menceritakan kesimpulannya saja.

Pertama, tiada yang salah tentang apa yang telah terjadi antara gue, karena itu adalah manusiawi. Namun, yang salah adalah alasan-alasan gue yang ternyata masih belum berkualitas. Bahkan gue berdalih gak membutuhkan alasan. Gue salah besar di titik yang satu ini.

Kedua, gue ternyata sejenak melupakan beberapa hal besar yang akan menghadang gue didepan. Sebaiknya gue mempersiapkannya.

Ketiga, tentang bagaimana gue bersikap dalam ranah waktu kedepan, -dimulai dari hari ini-, bersikap pada gue sendiri, bersikap pada dia, juga bersikap pada mereka. Yakni tentang gue yang harus tetap menjadi pribadi asli gue, yang gak boleh berubah walapun telah merasa nyaman pada seseorang ataupun pada satu suasana.

Beberapa kesimpulan yang lainya terpaksa gue sembunyikan karena alasan usia dan memang bukan konsumsi publik. Hehehe, mohon maaf.

Terakhir, ada satu kalimat yang ingin gue ucapakan padanya secara langsung. Mungkin suatu saat nanti akan ada kesempatan untuk bicara. Semoga saja.

Juga,
Jika suatu saat nanti gue kembali "jatuh", gue berjanji bahwa alasan-alasan gue akan lebih berkualitas, dan kisah gue akan lebih berkelas.
Entahlah, gue masih berharap.


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts