10 November 2016


Gue orang yang sangat penakut.

Di dunia ini gue takut pada banyak hal, dan ada dua objek yang paling gue takuti saat ini; kodok, dan orang yang sedang marah. Ternyata, dibalik wajah sangar, kumis bergaris, dan jenggot tipis yang gue miliki, gak membuat gue merasa jantan, gue tetap takut pada dua hal itu.

Bagi gue, kodok terlihat lebih menyeramkan dibanding hantu-hantu di film horor, baik itu hororluar negeri atau horor alay dalam negeri.  Kayak valak di  the counjuring 2, atau dewi persik di paku kuntilanak. *eh..  ini serius. Saking takutnya gue sama kodok, dulu gue pernah nangis sehari penuh gara-gara dikerjain temen SD gue,  mereka masukin dua ekor kodok ke tas gue. Saat itu, image gue sebagai cowo jantan, jadi runtuh dan berubah jadi banci jadi-jadian. Nj***ir.


*tapi kodok yang ini mah kece banget gila…


Sama kayak si kodok yg merenggut kejantanan gue itu, gue juga takut pada orang yang marah. Di samping itu, gue juga adalah orang yang gak bisa marah.
Ada dua alasan mengapa gue gak gak berani menatap orang marah;
Pertama, orang-orang yang sedang marah terkadang berubah menjadi orang lain yang sama sekali gak gue kenal. Membuat senyuman-senyuman indah yang pernah mereka keluarkan, sama sekali gak menjadi kenangan di otak gue, bahkan meninggalkan bekas yang buruk. Yah, terkadang otak gue juga se-alay itu.

Alasan berikutnya; gue melihat sesuatu yang mengerikan, hinggap di pundak mereka.

Saat gue berusia 17 tahun, gue mulai melihat sosok-sosok aneh ketika orang-orang sedang marah. Sosok seperti dobby di film Harry Potter; And The Chamber Of Secrets, namun dengan ukuran yang sedikit lebih kecil (hanya setinggi lutut), berwarna hitam pekat, kepala yang jauh lebih besar dibanding dengan postur tubuhnya, telinga yang jauh lebih lebar dibanding Aamiir khan di film PK,dan wajah yang lebih menyeramkan dengan lidah yang menjuntai menjijikan.
Dulu gue berpikir bahwa itu hanyalah halusinasi semata, karena gue kebanyakan nonton film fiksi dan anime, namun semakin kesini gue merasa itu semakin nyata. Dan entahlah, gue merasa si dobby kampret itu tau, bahwa cuma gue yang bisa liat dia.

*dobby yang ini mah masih lucu..


Semenjak saat itu, gue selalu merasa ketakutan ketika ada orang yang marah, gue selalu dibayang-bayangi sosok dobby itu. Sungguh kampret sekali.
Itu berpengaruh ke sikap gue saat ini, setiap kali gue dimarahi sama seseorang (dan tentunya dibayangi sama sosok kampret itu), gue selalu takut untuk kembali menyapa orang yang pernah marah ke gue. Gue selalu diam tanpa kata. Sangat sulit bagi gue untuk kembali ngobrol akrab dan saling sapa dengan orang-orang itu, sebanarnya bukan “sulit” tapi gue saja yang pengecut.

Minggu malam senin kemarin, gue juga melihat si dobby sialan itu. gue dan beberapa teman sesama pria mengadakan sebuah kumpulan setelah menyelesaikan sebuah acara. Kemudian, ditengah-tengah kumpulan itu, satu teman gue ada yang murka mendadak dengan mempermasalahkan kekompakan diantara kita. Yang lain pun juga ikut tersulut emosi karena temen gue yang satu itu. mereka saling berargumen dengan tingkat emosi diatas rata-rata. Gue? Gue hanya menunduk gak berani mengangkat kepala apalagi menatap mereka. Karena gue tau, si dobby telah muncul. Di kepala gue pun mulai terngiang bahasa-bahasa aneh yang diucapkan si dobby itu. gue, saat hanya menunduk lesu. Hingga salah satu dari teman-teman gue yang marah, meyuruh semua orang mengangkat kepala dan memperhatikan. Termasuk gue, dan dengan sangat terpaksa gue melihat ke  arah teman teman gue. “astaga” ada empat dobby di ruangan ini. Kampret, malam itu, gue gak bisa tidur sampe pagi, gue dihantui bayang-bayang itu.

Mungkin lama-kelamaan gue akan terbiasa dengan dobby-dobby itu, dan gue gak merasa ketakutan lagi. Namun jujur saja, semenjak tiga tahun terkahir dan sampai saat ini, gue masih merasa takut.



Dan karena alasan dobby ini pula, semenjak tiga tahun yang lalu gue merubah habis-habisan sikap gue yang emosian dan gampang marah. Gue berubah menjadi sosok yang periang, humoris, walau keliatan banget itu sangat memaksakan. (ah terkadang gue rindu sikap gue yang dulu, pendiam walaupun sedikit pemarah). Sebisa mungkin emosi gue gak boleh tersulut. Karena gue menyimpulkan bahwa dobby-dobby itu akan muncul di setiap manusia yang sedang marah.
 Dan apa jadinya jika gue marah???  dobby itu akan muncul di pundak kiri gue.

Dan kejadian itu pernah terjadi satu kali, saat idul fitri dua tahun yang lalu. Gue lepas control, dan gue marah habis habisan. Sampe-sampe saat itu gue (katanya) berubah menjadi sosok yang sama sekali gak dikenali. Alasan gue marah??? Saat itu masalahnya sangat besar, gue hanya gak suka ada seseoarang yang menyakiti ibu.

Kembali ke yang tadi, gue berubah. Mungkin gambaranyan seperti son goku yang berubah jadi super saiya 4 di film dragon ball , atau Naruto yang berubah jadi kyubi di film naruto shippuden, atau bahkan seperti kurosaki  ichigo yang berubah jadi hollow di film bleach. Yang jelas, katanya saat itu gue sungguh mengerikan.

*kurosaki ichigo mode hollow


 *son goku mode super saiya


*naruto mode kyubi




Sesaat sebelum marah gue reda, gue sadar akan satu hal. Ada sesuatu yang hinggap di pundak gue, menjilati telinga gue, dan membisikan kata-kata yang aneh. Gue langsung tertegun dengan tatapan yang kosong, entah sejak kapan si dobby itu ada di kepala gue dan menguasai gue. Gue langsung pegang badannya dan gue lempar jauh-jauh. Kemudian  dia menghilang. Badannya terasa begitu dingin, dan entah mengapa hal itu meninggalkan sebuah bekas aneh di telapak tangan kanan gue sampe sekarang. Setelah kejadian itu, dua hari dua malam gue demam. Gue ketakutan.
...


Yah, semenjak saat itu sampai detik ini, gue menjadi orang yang gak mau marah, walaupun sebenarnya gue bisa dan bahkan lebih bisa. Tapi gue gak mau dikuasai si dobby sialan itu. gue selalu berjuang dengan keras untuk mengontrol emosi gue saat perasaan gue tersulut.
 Pada akhirnya gue gak bisa marah.

Dan sampai saat ini, gue masih sama.
Gue adalah orang yang sangat penakut.



Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts