17 April 2017



            Pola pikir manusia terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dari dulu sampai sekarang, selalu saja bermunculan ragam cerita yang berbeda-beda, entah itu dalam novel, maupun cerpen. Salah satunya adalah kumpulan cerpen-cerpen menarik karya Najib Kailani yang berjudul  Al- Kabuus. Dari sekian banyak cerpen yang tersusun apik dalam buku tersebut, ada satu cerita yang lumayan menarik perhatian, yakni cerpen yang berjudul “otoriter”.

            Otoriter menceritakan tentang kisah hidup seorang gadis bernama Siham yang sedang kasmaran dimabuk cinta. Dia jatuh cinta pada seorang laki-laki tampan bernama Sultan Ali. Jatuh cinta telah membuat Siham melupakan hal-hal yang buruk yang berada di sekitarnya, yakni keluarganya sendiri. Ayahnya yang pendiam dan menyeramkan, ibunya yang cerewet dan suka marah-marah, serta adiknya yang bernama Abdul Rahman yang sama sekali tidak menghormati Siham selaku kakaknya, bahkan ia sering bersikap kasar dan kejam pada Siham. Di lingkungan keluarganya itu, hanya ada seorang wanita yang bersikap ramah kepada Siham, ia adalah Ruqaiah, seorang pembantu di keluraganya. Sedangkan Sultan Ali sendiri adalah anak dari seorang laki-laki tua yang sudah dikenal buruk dan keji pergaulannya oleh masyarakat, namun Siham menyangka bahwa dia adalah laki-laki yang baik. Laki-laki tua; ayah Sultan Ali itu bernama Ali.

            Di dalam cerpen ini, Najib Kailani menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dengan menggunakan alur maju, Najib Kailani menceritakan tentang dua sejoli yang sedang menjalin hubungan cinta; Siham dan Sultan. Bagaimana keduanya telah saling percaya dan sedang menunggu sebuah momen berharga, dimana ayah Sultan yakni Ali akan melamarkan Siham untuk Sultan sebagai pendamping hidupnya. Hal ini jugalah yang semakin membuat hati mereka dilanda perasaan bahagia tiada tara, terutama Siham. Dia sangat yakin bahwa penderitaan dan hal buruk yang dia alami di rumahnya itu akan segera berakhir dan akan diganti dengan hari-hari berwarna penuh bahagia. Itulah mengapa Siham tetap bahagia walaupun mendapatkan perlakuan semena-mena keluarganya.

            Namun ternyata, klimaks dalam cerpen ini sungguh menyayat hati para pembaca. Momen yang ditunggu-tunggu oleh Siham dan Sultan itu malah menjadi petaka yang luar biasa. Ayah Sultan tidak melamar Siham untuk Sultan, melainkan untuk dirinya sendiri. Parahnya lagi, hal ini tanpa persetujuan Siham tetapi keluarga Siham sendiri yang menyutujuinya. Betapa hancurnya hati kedua anak yang dimabuk cinta itu. Dikisahkan bahwa Sultan kemudian menghilang entah kemana, dan Siham menjalani pahitnya kehidupan dan kenyataan bahwa dia dipaksa menikah dengan orang yang tidak dia sukai, sekaligus merupakan ayah dari orang yang ia sukai. Semua prasangka baik Siham tentang ayah Sultan telah terbukti salah, ternyata ayah Sultan memang memiliki sikap yang buruk dan keji. Dengan kekuasaanya, dia memenuhi nafsunya sendiri, walaupun itu harus mengorbankan orang lain termasuk perasaan anaknya sendiri.

            Cerpen ini memberikan sindiran sekaligus memberitahukan pada kita bahwa sikap kesewenang-wenangan dan sikap berkuasa sendiri (otoriter) ini terkadang masih ada dan masih sering terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat. Sikap otoriter nan egois ini begitu kejam, sedikitpun tidak memikirkan orang lain, namun hanyalah mementingkan diri sendiri. Cerpen ini memberikan pesan pada kita semua untuk menjauhi sikap otoriter, karena kebahagian yang dihasilkan dengan mengorbankan orang lain tidaklah bisa disebut sebagai kebahagiaan yang hakiki.
           
.


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts