22 April 2017



Salah satu sahabat Nabi yang berasal dari Persia itu bernama Salman. Suatu ketika, Salman merasa telah tiba baginya waktu untuk menikah. Seorang wanita anshor yang dikenalnya sebagai wanita sholehah dan berdedikasi tinggi terhadap islam, telah mengambil tempat di hatinya.

Namun bagaimana pun, Salman merasa asing di sini. Madinah bukan tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempat ia tumbuh dewasa. Madinah memiliki budaya, bahasa, dan pernik kehidupan berbeda dari tempat kelahirannya. Hingga ia berpikir bahwa melamar seorang gadis Madinah merupakan perkara pelik bagi pendatang sepertinya. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah dan mau membantunya menemui sang gadis untuk menyampaikan lamarannya. Maka diceritakanlah unek cintanya kepada sahabat Anshor yang dipersaudarakan dengannya. Abu Darda.

“Subhanallah, Walhamdulillah…” girang ria Abu Darda mendengar tuturan Salman yang berencana meminang seorang gadis Madinah. Singkat cerita, setelah persiapan dirasa memadai, beriringanlah kedua sahabat itu menuju sebuah rumah di tengah kota Madinah. Rumah gadis sholihah lagi bertaqwa yang Salman idamkan.

“Saya adalah Abu Darda, dan ini saudara saya Salman Al Farisi. Sungguh Allah memuliakannya dengan islam dan dia memuliakan islamnya dengan jihad. Dia memiliki kedudukan tinggi di sisi Rasulullah SAW hingga Beliau menyebutnya sebagai ahli baitnya”. Fasih lincah Abu Darda menuturkan maksud Salman Al Farisi dengan bahasa fasih bani Najjar.

“Kehormatan bagi kami”. Ucap tuan rumah dengan wajah berseri. “Menerima kalian berdua sebagai sahabat yang mulia. Dan kehormatan besar bagi keluarga ini untuk menautkan seorang sahabat Rasulullah. Tetapi, hak jawaban sepenuhnya saya serahkan kepada puteri kami.” Sambil memberi isyarat ke hijab yang berada di belakangnya, sang puteri menanti dengan hati yang berkecamuk.

“Maafkan kami atas keterusterangan ini”, tutur Ibu kandung dari gadis sholehah idaman Salman itu. Ternyata sang ibu mewakili suara puterinya. “Karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridho Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan salman. Namun jika Abu Darda memiki urusan yang sama, maka puteri kami bersedia mengiyakannya”.

Jelas dan lugas sudah semua tertutur. Ada badai ironi yang berkecamuk keras di hati Salman dan Abu Darda. Ternyata sang puteri lebih tertarik pada Abu Darda. Ini merupakan sebuah persaudaraan cinta yang sama-sama berebut tempat di hati. Namun, ironi ini berakhir indah. Mengapa? Karena Salman langsung berseru; “Subhanallah… semua mahar yang telah kupersiapkan akan aku serahkan padamu Abu Darda, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian”.

Akhir cerita, Abu Darda lah yang mempersunting gadis shalehah tersebut.
***

Cinta tak harus memiliki!

Itu yang sering diucapkan oleh para remaja saat cinta menggelayuti hatinya. Sejatinya, kita tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Seberharga apapun itu, ia tetap menjadi prerogatif Allah yang suatu saat bisa diambil kapan dan dengan cara apa saja.

Kisah mulia Salman mengajarkan kepada kita bahwa sebuah kesadaran harus dimunculkan meskipun dalam situasi yang tidak mudah. Kisah ini bukan bicara tentang tikung menikung, Bukan juga tentang perempuan yang tidak punya hati, namun tentang sebuah cinta sejati.

Mampukah anda bersikap dewasa seperti Salman?

Saya sendiri belum dan mungkin tak akan pernah bisa. Kisah ini begitu dilema, hemat saya.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts