20 April 2017

VARIASI DAN JENIS BAHASA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Lughah Al Ijtima’i
Dosen Pengampu : Umi Kulsum, M.A.






Disusun oleh :
Nurlaila Kurniati (11150210000029)
Siti Nur Aisyah (11150210000059)
Ucep Nasir Mizwan (11150210000100)







BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2017




Kata Pengantar


            Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat berupa akal dan pikiran hingga kami mampu menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Variasi dan Jenis Bahasa”  dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Lughah Al Ijtima’i. Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang mana kepada pribadi beliaulah kita semua harus bercermin untuk menjalani hidup yang lebih terarah dan ber-akhlaq al-karimah.
            Makalah ini berangkat untuk memberikan sedikit pencerahan tentang variasi dan jenis bahasa dilihat dari berbagai sudut pandang. Topik tersebut merupakan sesuatu yang sangat menarik untuk dikupas dan didiskusikan bersama. Bukan hanya untuk kalangan mahasiswa tapi juga masyarakat umum, mengingat bahwa bahasa adalah alat untuk berkomunikasi dan alat untuk saling memahami dalam kehidupan bersosial.
            Semoga makalah yang singkat dan sederhana ini, setidaknya mampu  membuat mata kita agak melek  tentang variasi dan jenis bahasa dengan berdasarkan berbagai sudut pandang. Di samping itu, semoga makalah yang sarat kritik maupun saran ini,dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan pembaca, umumnya bagi kita semua.





Ciputat, 01 April 2017

     Penyusun   














BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
            Secara umum, bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan oleh mahluk hidup untuk saling berinteraksi. Khususnya manusia, bahasa yang dimiliki manusia sangat beragam dan banyak. Hal ini terjadi tidak lepas dari banyaknya pula suku bangsa dan budaya  yang dimiliki oleh manusia. Bahkan lebih dari itu, dalam satu jenis bahasa pun  juga memiki keanekaragaman dalam segi pengucapan, fungsi, dan hal lainnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahasa dan unsur-unsur di dalamnya itu sangatlah beraneka ragam.
            Selain itu, jika dikaitkan dengan ranah sosial, keanekaragaman bahasa ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor  keragaman sosial penutur bahasa, dan keragaman fungsi bahasa itu sendiri. Dengan demikian, manusia sebagai mahluk sosial, sudah sepatutnya untuk mengetahui, memahami, dan mempraktekan keanekaragaman bahasa sesuai dengan waktu, kondisi, dan fungsi yang tepat.
            Berangkat dari hal itu, perlu ada sebuah pemaparan khusus tentang variasi dan jenis jenis bahasa secara umum untuk disampaikan kepada khalayak dengan penyampain yang singkat, padat, dan jelas. Maka makalah inipun mencoba hadir untuk menjawab panggilan-pangilan itu, dengan menyinggung materi-materi yang berkaitan dengan variasi dan jenis bahasa.

B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dan penyebab variasi bahasa dan bagaimana pembagiannya?
2.      Apa pengertian jenis bahasa dan bagaimana pembagiannya?
3.      Bagaimana pembagian dan contoh variasi Bahasa Arab?

C.      Tujuan.
1.      Menjelaskan definisi, penyebab, dan pembagian variasi bahasa.
2.      Menjelaskan definisi dan pembagian jenis bahasa.
3.      Menjelaskan pembagian dan contoh variasi Bahasa Arab.
.

BAB II
PEMBAHASAN


A.      VARIASI BAHASA.

1.        Pengertian dan Penyebab Variasi Bahasa.
            Secara sederhana, variasi dapat diartikan sebagai suatu perbedaan atau keberanekaragaman. Variasi dapat terjadi dalam berbagai hal, baik itu benda mati ataupun mahluk hidup. Lebih dari itu, variasi juga terjadi pada bahasa.
Variasi dalam sebuah bahasa terjadi karena dua hal;
a.         Keragaman Penutur Bahasa.
     Dikarenakan manusia sendiri merupakan mahluk yang beragam dan terdiri dari suku-suku yang berbeda, maka bahasa yang dituturkan dan cara penuturannya pun menjadi beragam dan bermacam-macam.

b.        Keragaman Aktivitas Penutur dan  Keragaman Fungsi Bahasa.
            Sebagai sebuah alat berinteraksi, bahasa memiliki fungsi yang bermacam-macam. Entah itu untuk bertanya, memerintah, meminta bantuan, dan sebagainya. Hal itulah yang kemudian mempengaruhi dan menciptakan variasi bahasa yang bermacam macam dalam ranah sosial. Disamping itu, setiap kegiatan yang dilakukan penutur sangat memerlukan dan dapat menyebabkan variasi bahasa.[1]

2.        Pembagian Variasi Bahasa
            Berikut ini adalah variasi bahasa yang ditinjau dari berbagai sudut pandang;
a.        Variasi dari segi penutur.
            Ditinjau dari sudut pandang penutur bahasa, ada beberapa variasi yang bahasa yang berkaitan dengannya. Diantaranya;
1Idiolek.
            Idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasa atau idioleknya masing-masing. Idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pemilihan diksi, gaya bahasa, susunan kalimat, ekspresi, dan sebagainya. Dan yang paling dominan adalah warna suara, sehingga kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara bicaranya tanpa melihatnya.

2. Dialek.
            Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu. Contohnya; bahasa Jawa dialek Banyumas, Pekalongan, Surabaya, dan lain sebagainya. Bidang studi linguistik yang mempelajari dialek-dialek di berbagai wilayah dinamakan dengan dialektologi.
3. Kronolek. (dialek temporal).
Kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu. Misalnya, variasi Bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada tahun lima puluhan, dan variasi bahasa pada masa kini. Variasi bahasa dari ketiga zaman tersebut tentunya berbeda, baik dari segi lafal, ejaan, morfologi, dan sintaksis.

4. Sosiolek (dialek sosial).
            Sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.
            Variasi bahasa sosiolek dibagi menjadi beberapa bagian sebagaimana berikut ini:
4.1. Variasi Bahasa Berdasarkan Usia
            Yaitu varisi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia. Misalnya, variasi bahasa anak-anak akan berbeda dengan variasi remaja atau orang dewasa.
4.2.  Variasi Bahasa Berdasarkan Pendidikan
            Yaitu variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa. Misalnya, orang yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar akan berbeda variasi bahasanya dengan orang yang lulus sekolah tingkat atas. Demikian pula, orang yang lulus pada tingkat sekolah menengah atas akan berbeda dengan mahasiswa dalam segi penggunaan variasi bahasanya.


4.3. Variasi Bahasa Berdasarkan Seks
            Yaitu variasi bahasa yang terkait dengan jenis kelamin, yakni pria dan wanita. Misalnya, variasi bahasa yang digunakan oleh mahasiswi atau ibu-ibu akan berbeda dengan varisi bahasa yang digunakan oleh mahasiswa atau bapak-bapak.
4.4. Variasi Bahasa Berdasarkan Profesi
            Yaitu variasi bahasa yang terkait dengan jenis profesi, pekerjaan dan tugas dari para penguna bahasa tersebut. Misalnya, perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh para buruh, guru, dokter, dan lain-lain.
4.5. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Kebangsawanan
Yaitu variasi yang terkait dengan tingkat dan kedudukan penutur dalam masyarakatnya. Misalnya, adanya perbedaan variasi bahasa yang digunakan oleh raja ataupun keturunannya dengan masyarakat biasa. Dalam hal ini, beberapa bahasa daerah menamai variasi ini dengan istilah undak usuk bahasa.
Contohnya  dalam bidang kosa kata, seperti kata mati digunakan untuk masyarakat biasa, sedangkan para raja menggunakan kata mangkat.
4.6. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Ekonomi Para Penutur
Yaitu variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi penutur dalam masyarakat. Misalnya, seseorang yang mempunyai tingkat ekonomi yang tinggi akan mempunyai variasi bahasa yang berbeda dengan orang yang mempunyai tingkat ekonomi rendah. Variasi ini mempunyai kemiripan dengan variasi bahasa berdasarkan kebangsawanan, hanya saja tingkat ekonomi bukan mutlak sebagai warisan sebagaimana halnya dengan tingkat kebangsawanan. Disamping itu,di zaman modern ini pemerolehan status ekonomi yang tinggi tidak lagi identik dengan status kebangsawanan yang tinggi juga.
 4.7. Variasi Bahasa Berdasarkan Tingkat Golongan, Status, dan Kelas Sosial
 Variasi bahasa berdasarkan tingkat golongan, status dan kelas sosial para penuturnya terdiri dari berbagai kategori sebagai berikut;
a.       Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari variasi sosial lainya. Contohnya seperti bahasa bagongan; yaitu variasi bahasa jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton.
b.      Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan
dipandang rendah. Contohnya seperti bahasa inggris yang digunakan oleh para cowboy.

c.       Vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan.
Contohnya adalah bahasa-bahasa eropa pada zaman Romawi sampai zaman pertengahan.
d.      Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia, artinya bahwa variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh orang lain dari kalangan luar.
e.       Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang cenderung menyingkat kata, karena bukan merupakan bahasa tulis. Misalnya dok (dokter), prof (profesor), let (letnan), nda (tidak).
f.       Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu namun tidak bersifat rahasia. Misalnya, istilah-istilah yang digunakan oleh para montir seperti  dipoles, didongkrak, dan lain-lain.
g.      Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi tertentu dan bersifat rahasia. Misalnya, bahasa para pencuri dan tukang copet yang memakai kata “barang”  yang bermaksud “mangsa”, daun dalam arti uang, dll;
h.      Ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan. Biasanya digunakan oleh para pengemis.[2]

b.      Variasi Dari Segi Pemakaian.
Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, pendidikan, dan sebagainya. Variasi bahasa yang paling tampak cirinya dari segi pemakaian ini adalah dalam hal kosakata.
Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain. Misalnya, bahasa dalam karya sastra biasanya menekan penggunaan kata dari segi estetis sehingga dipilih dan digunakanlah kosakata yang tepat. Ragam bahasa jurnalistik juga mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana, komunikatif, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah; komunikatif karena jurnalis harus menyampaikan berita secara tepat; dan ringkas karena keterbatasasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu (dalam media elektronik). Intinya ragam bahasa yang dimaksud di atas, adalah ragam bahasa yang menunjukan perbedaan ditinjau dari segi siapa yang menggunakan bahasa tersebut.[3]

c.         Variasi Dari Segi Keformalan
Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joos (1967) dalam bukunya The Five Clock  membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu:
1.       Ragam Beku (frozen).
Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi khidmat, misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah, undang-undang, akta notaris, dan sebagainya.
2.      Ragam Resmi (formal)
Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya.
3.       Ragam Usaha (konsultatif)
Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan biasa di sekolah, rapat-rapat, atau pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi. Wujud ragam usaha ini berada di antara ragam formal dan santai.
4.      Ragam Santai (kasual)
 Ragam santai adalah ragam bahasa yang digunakan dalam situasi yang tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istirahat dan sebagainya.
5.       Ragam Akrab (intim)
Gaya atau ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan leh para penutur yang hubungannya sudah akrab. Variasi bahasa ini biasanya pendek-pendek dan terkadang dengan artikulasi yang tidak jelas.
           
            Dalam kehidupan sehari-hari, kelima ragam diatas terkadang  digunakan secara bergantian. Ketika berurusan dengan masalah dokumen jual beli, sewa menyewa atau pembuatan akte notaris, kita menggunakan ragam beku. Dalam rapat dinas atau ruang kuliah, kita menggunakan  bahasa resmi. Pada waktu menyelesaikan tugas kelompok, kita menggunakan ragam usaha. Ketika beristirahat dan makan-makan di kantin, kita menggunakan ragam santai. Dan ketika kita bercakap-cakap dengan sahabat karib tanpa topik tertentu, biasanya menggunakan ragam akrab.
Sebagai perbandingan, perhatikan tiga contoh ragam bahasa berikut ini yang memiliki maksud yang sama namun tingkat keformalannya berbeda;

-          Suadara boleh mengambil buku-buku yang Saudara sukai!
-          Ambillah yang kamu sukai!
-          Kalau mau ambil aja![4]

d.        Variasi dari Segi Sarana.
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Misalnya, telepon, telegraf, radio dan sebagainya.  Hal ini memberikan kesimpulan bahwa ragam bahasa menurut sarana terbagi dua, yakni ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Hal ini didasarkan kepada kenyataan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis memiki wujud dan struktur yang berbeda.[5]
1.        Lisan
            Merupakan suatu cara berkomunkasi dengan beberapa orang yang diungkapkan melalui media lisan seperti alat ucap yang memiliki unsur dasar yakni; pelafalan dalam berkata-kata, tata bahasa, dan kosakata yang terkait oleh ruang dan waktu. Ditinjau dari cara penyampaiannya, ragam bahasa lisan mempunyai unsur suprasekmental (aksen, nada, dan tekanan) dan paralingual (gerak-gerik tangan, mata, kepala) yang sangat berpengaruh terhadap hasil komunikasi.

2.        Tulisan
Dalam ragam tulis, kita harus memperhatikan tata cara penulisan (ejaan) ,tata bahasa, dan kosa kata.  Ragam bahasa tulis menuntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa dan struktur kalimat. Seperti bentuk kata, susunan kalimat, ketepatan dan kecermatan dalam pemilihan kosa kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.[6]

B.            JENIS BAHASA

1.        Pengertian Jenis Bahasa.
            Jika pembahasan variasi bahasa hanya berkenaan dengan faktor internal bahasa, seperti penutur dan penggunaannya, maka pembahasan jenis bahasa berkenaan dengan faktor eksternal bahasa, seperti faktor sosiologis, politik, dan kultural. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jenis bahasa menurut sosiolinguistik adalah pengklasifikasian ragam bahasa yang ditinjau dari faktor-faktor eksternal yang masih berkaitan erat dengannya.

2.        Pembagian Jenis Bahasa.

            Berikut ini adalah klasifikasi jenis bahasa berdasarkan faktor-faktor eksternal dalam ranah linguistik;
a.          Jenis Bahasa Berdasarkan Sosiologis.
Penjenisan bahasa berdasarkan faktor sosiologis, artinya penjenisan itu tidak terbatas pada struktur internal bahasa, tetapi juga berdasarkan faktor sejarahnya, kaitannya dengan sistem linguistik lain, dan pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
       Stewart (dalam fishman(ed.)1968) menggunakan empat dasar untuk menjeniskan bahasa-bahasa secara sosiologis, yakni: (1) Standardisasi (2) Otonomi (3) Historisitas (4) Vitalitas.
1.      Standardisasi atau pembakuan adalah adanya kodifikasi dan penerimaan terhadap sebuah bahasa oleh masyarakat pemakai bahasa itu akan seperangkat kaidah atau norma yang menentukan pemakaiaan “bahasa yang benar”.
2.      Otonomi atau keotonomian, adalah teori bahwa sebuah sistem linguistik disebut mempunyai keotonomian kalau sistem  linguistik itu memiliki kemandirian sistem yang tidak berkaitan dengan bahasa lain.
3.      Historisitas atau kesejarahan adalah teori bahwa sebuah sistem linguistik dianggap mempunyai historisitas kalau diketahui atau dipercaya sebagai hasil perkembangan yang normal pada masa yang lalu.
4.      Vitalitas atau keterpakaian. Yakni fopemakaian sistem linguistik oleh satu masyarakat penutur asli yang tidak terisolasi. Jadi, unsur vitalitas ini mempersoalkan apakah sistem linguistik tersebut memiliki penutur asli yang masih digunakan atau tidak.[7]

b.        Jenis Bahasa berdasarkan Sikap Politik
            Berdasarkan sikap politik atau sosial politik bahasa dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yakni:
1.      Bahasa Nasional atau bahasa kebangsaan, adalah kalau sistem linguistik itu diangkat oleh suatu bangsa (dalam arti kenegaraan) sebagai salah satu identitas kenasionalan bangsa itu.
2.      Bahasa Negara adalah sebuah sistem linguistik yang secara resmi dalam undang-undang dasar sebuah negara ditetapkan sebagai alat komunikasi resmi kenegaraan. Artinya, segala urusan kenegaraan, administrasi kenegaraan, dan kegiatan-kegiatan kenegaraan dijalankan dengan menggunakan bahasa itu.
3.      Bahasa resmi yaitu sebuah sistem linguistik yang ditetapkan untuk digunakan dalam suatu pertemuan, seperti seminar, konferensi, rapat, dan sebagainya.
4.      Bahasa persatuan. Pengangkatan satu sistem linguistik sebagai bahasa persatuan adalah dilakukan oleh suatu bangsa dalam kerangka perjuangan, di mana bangsa yang berjuang itu merupakan masyarakat multilingual. Kebutuhan akan sebuah bahasa persatuan adalah untuk mengikat dan mempererat rasa persatuan sebagai satu kesatuan bangsa.
            Ada kemungkinan keempat jenis bahasa tersebut mengacu pada satu sistem linguistik yang sama, dan ada kemungkinan juga berbeda. Sedangkan di Indonesia sendiri, keempat jenis bahasa tersebut mengacu pada satu sistem yang sama yakni Bahasa Indonesia.[8]

c.                   Jenis Bahasa Berdasarkan Tahap Perolehan.

     Berdasarkan tahap pemerolehannya, jenis bahasa dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
1.      Bahasa Ibu
     Bahasa ibu lazim juga disebut bahasa pertama karena bahasa itulah yang pertama-tama dipelajarinya. Kalau si anak mempelajari bahasa lain, yang bukan bahasa ibunya, maka bahasa lain yang dipelajarinya itu disebut bahasa kedua. Andaikata kemudian si anak mempelajari bahasa lainnya lagi, maka bahasa bahasa yang dipelajari terakhir ini disebut bahasa ketiga. Begitu pula selanjutnya. Pada umumnya, bahasa pertama seorang anak Indonesia adalah bahasa daerahnya masing-masing. Sedangkan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua karena baru dipelajari ketika masuk sekolah, dan ketika dia sudah menguasai bahasa ibunya; kecuali mereka yang sejak bayi sudah mempelajari bahasa Indonesia dari ibunya.

2.      Bahasa Asing
     Yang disebut bahasa asing akan selalu merupakan bahasa kedua bagi seorang anak. Di samping itu penamaan bahasa asing ini juga bersifat politis, yaitu bahasa yang digunakan oleh bangsa lain. Oleh karena itu, bagi bangsa Indonesia, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Malaysia dan Bahasa Negara lainnya, merupakan sebuah bahasa asing.

3.       Lingua Franca
     Yang dimaksud dengan lingua franca yaitu sebuah sistem linguistik yang digunakan sebagai  alat komunikasi sementara oleh para partisipan yang mempunyai bahasa ibu yang berbeda.  Sebagai contoh, dulu bahasa latin di eropa merupakan sebuah lingua franca bagi bangsa-bangsa di eropa.[9]

            Demikianlah klasifikasi jenis bahasa ditinjau dari faktor-faktor eksternal dalam ranah sosiolinguistik.

C.      VARIASI DALAM BAHASA ARAB.
1.        Pembagian Variasi Bahasa Arab
            Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semitik. Bahasa ini dituturkan oleh lebih dari 280.000.000 orang sebagai bahasa pertama. Bahasa ini merupakan bahasa resmi dari 25 negara, dan merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh Al Quran.[10]
                Secara garis besar, bahasa Arab terbagi atas dua ragam, yakni ragam bahasa Arab baku (fusha) atau sering disebut formal language yang dipakai sebagai bahasa resmi, yang merupakan perkembangan kembali bahasa Arab Klasik dan bahasa yang dipakai dalam Al Quran dan Hadis dan ragam bahasa Arab 'Amiyah (bahasa sehari-hari, bahasa pasaran, atau bahasa gaul) atau sering disebut in-formal language yang dipakai sebagai bahasa komunikasi non-formal sehari-hari.
            Kedua jenis ini masing-masing mempunyai dialek geografis. Perbedaan dialek geografis bahasa Arab baku tidak mencolok, sehingga perbedaannya masih mudah dimengerti oleh orang-orang non-Arab. Lain halnya dengan bahasa 'Amiyah. Perbedaan bahasa 'amiyah antara dialek satu dengan lainnya sering kali sangat jauh, sehingga orang non-Arab akan menemukan banyak kesulitan dalam memahaminya.[11]
            Bahasa arab memiliki banyak sekali dialek, namun diantara sekian banyak dialek tersebut, ada beberapa dialek yang paling terkenal dan disebut dengan dialek utama. Yakni sebagai berikut;
a.        Dialek Mesir         : Dipakai oleh sekitar 76 juta rakyat Mesir.
b.        Dialek Maghribi   : Dipakai oleh sekitar 20 juta rakyat Afrika Utara.
c.        Dialek Levantine  : Disebut juga Dialek Syam. Dipakai di Syria, Palestina,
                                      Lebanon dan Gereja Maronit Siprus.
d.       Dialek Iraq           : dipakai di Iraq bagian timur dan selatan.
e.        Dialek Arab Timur dan teluk : Dipakai di Oman, di Arab Saudi dan di Irak bagian Barat, Qatar, Uni Emirat Arab.[12]

2.        Contoh Perbedaan Variasi Bahasa Arab
            Jika dibandingkan dengan bahasa baku, bahasa ‘aamiyah memiliki beberapa perbedaan dari segi pelafalannya. Diantara perbedaan itu, dapat disimpulkan dalam beberapa kaidah umum berikut ini;
a.       Penggantian bunyi
Contoh                        :  ثلاثة  (tsalatsah)         menjadi          تلاتة (talaatah)
                        : أنت   (anta)                 menjadi            إنت      (inta)
b.      Penambahan bunyi
Contoh            : تفضل (tafaddal)          menjadi          إتفضل (itfaddal)
                        : معي [ma’iy]                menjadi          معايا [ma’ay:a]
c.       Pelepasan bunyi
Contoh                        : في أين [fi: aina]            menjadi          فين [fi:n]
                        : من أين  [min aina]        menjadi          منين [mini:n]
d.      Penukaran tempat
Contoh                        : حضرتك [hadratik]      menjadi           حضرتك [hadritak]
                        : ترجع [tarji’]                menjadi          ترجع [tirga]

           

            Adapun dalam pemakaiannya, bisa diibaratkan sebagai berikut; Misalnya, ungkapan 'ayna tadzhab? 'Mau pergi ke mana?' dalam dialek amiyah Sudan diucapkan 'masyi wain?', sementara dalam dialek amiyah Irak diucapkan 'win rayh?' . Kedua variasi di atas bukan hanya pada segi fonetis, tetapi lebih pada pilihan kata. Ungkapan ‘masyi: wain?’ pada dialek Sudan di atas jika dilacak ke bahasa baku, berasal dari kalimat ‘(anta) ma:sy:?aina?’ (anda berjalan ke mana?), sedangkan ungkapan ’win rayh?’ berasal dari ‘’aina taru:h’ (kemana Anda pergi?).[13]
             Semua perubahan yang terjadi pada dialek-dialek bahasa Arab pada umumnya tidak lepas dari empat kaidah umum yang dijelaskan sebelumnya. Namun pada kenyataanya kaidah tersebut bukanlah sebuah patokan yang bersifat mutlak. Mungkin saja kaidah tersebut memiliki cabang-cabang khusus lagi, ataupun ada perbedaan dialek yang tidak tercakup oleh kaidah, namun bersifat konvensional.


                               





















BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN
            Variasi bahasa terjadi karena beberapa faktor diantaranya karena penutur bahasa yang beragam, dan juga karena beragamnya aktivitas dan fungsi dari bahasa itu sendiri. Sedangkan jenis bahasa timbul karena terjadi nya hubungan antara bahasa dengan faktor faktor lain yang berkaitan dengan bahasa, seperti sosiologis, politik dan sebagainya. Keberadaan variasi bahasa itu sendiri menunjukan tingakat keberagaman dan kekayaan suatu bangsa. Oleh karena itu, kita selaku warga Indonesia patut bersyukur karena memiliki budaya dan bahasa yang beragam.
            Tak hanya di Indonesia, negara lain pun memiliki varian dalam bahasa yang mereka gunakan. Salah satunya Bahasa Arab. Terbukti bahwa bahasa arab adalah bahasa yang memiliki dialek yang lumayan banyak dan digunakan di berbagai negara. Dengan demikian, sudah sepatutnya kita semua, -khususnya pelajar bahasa- semakin tertarik untuk mempelajari bahasa Arab.





                [1] Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,61
                [2]  Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,62-68
                [3]  Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,69
                [4] Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,70-71
                [5] Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,72
                [6] http://makalahsosiolinguistikrahmanbone.blogspot.co.id/2013/07/aaamakalah-pragmatikaaa.html diakses pada rabu 22 maret 2017 pukul 10.18 wib.

                [7] Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,74-78

                [8] Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,78-81
                [9] Chaer abdul, Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal (Jakarta: Rineka Cipta,2010) hlm,81-82
                [10] http://pbaiainjmember.blogspot.co.id/2013/04/macam-macam-dialek-bahasa-arab.html diakses pada 1 April 2017, pukul 10.47 WIB
                [11] Kholisin. Variasi fonologis Bahasa Arab Lisan Dialek Mesir Dan Saudi Arabia. Tesis Program Studi Linguistik Program Pasca Sarjana UI 2001 (Jakarta: tidak diterbitkan) hlm 2
                [12] http://pbaiainjmember.blogspot.co.id/2013/04/macam-macam-dialek-bahasa-arab.html diakses pada 1 April 2017, pukul 10.47 WIB
                [13] Kholisin. Variasi fonologis Bahasa Arab Lisan Dialek Mesir Dan Saudi Arabia. Tesis Program Studi Linguistik Program Pasca Sarjana UI 2001 (Jakarta: tidak diterbitkan) hlm 5-13
.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts