21 September 2017




Sama seperti kebanyakan orang, pada awalnya saya juga beranggapan bahwa filologi adalah salah satu cabang ilmu yang membosankan, tidak menarik, kolot, bahkan  (mohon maaf) tidak berguna. Apasih indahnya memburu, membaca, dan mencoba menerjemahkan naskah kuno yang bahkan sangat sulit didapatkan? Anggapan ini muncul, semata karena ketidaktahuan dan ketidaktertarikan saya terhadap filologi. Sebenarnya, ini hanyalah apologi yang saya buat untuk menutupi rasa malas dalam mempelajari sebuah cabang ilmu yang baru. Karena memang, saya belum pernah berkenalan langsung dengan cabang ilmu yang satu ini,  hanya saja saya pernah beberapa kali mendengar istilah filologi dari percakapan beberapa mahasisiwa senior dan membaca sebuah jurnal yang itupun dilakukan tanpa sengaja. Sungguh jahat sekali apa yang saya lakukan dengan men-judge sesuatu yang sama sekali belum saya kenali.


Anggapan ini seketika langsung runtuh tatkala saya membaca bagian pertama dari buku yang dianjurkan dosen untuk saya pelajari dan fahami. Buku “Filologi Indonesia; Teori dan Metode”. Hanya pada bagian pertama saja, buku ini telah memberikan pencerahan atas pemahaman saya yang masih gelap gulita perihal filologi. Ternyata, bukan semata membaca, meneliti, dan menerjemahkan naskah kuno saja, filologi adalah cabang ilmu yang terhubung dengan semua cabang ilmu lainnya. Saya jadi percaya bahwa naskah-naskah kuno tersebut bukan hanya kertas kolot yang tidak memiliki harga, tapi merupakan sebuah pusaka luar biasa yang diwariskan oleh para pendahulu, agar kita mengetahui sebuah kebanaran yang ingin disampaikan. Entah itu kebenaran tentang sejarah, adat, hukum, bahkan kebenaran tentang hadis Rasulullah SAW.


Saya jadi teringat dengan mata kuliah yang saya pelajari di Asrama; Takhrij Hadis dan Studi Sanad. Para ulama ahli hadis, ternyata juga melakukan apa yang dilakukan seorang filolog. Dalam meneliti keotentikan sebuah hadis -apakah benar riwayatnya dari Rasulullah SAW atau bukan- para ulama hadis juga meneliti naskah-naskah kuno yang ditinggalkan para sahabat Nabi dan para Tabi'in. Seperti naskah kuno milik Ubaydillah ibn Umar, Suhail ibn Abi Shalih dan lain sebagainya.


Akhirnya saya menyadari betapa pentingnya naskah-naskah kuno yang sebagian masih berserakan entah dimana itu. Lebih dari itu, saya juga menyadari betapa pentingnya Ilmu yang mampu mengupas naskah-naskah ini; Filologi. Ilmu yang mampu membuka tabir hitam seorang tokoh, sebuah kejadian, sebuah hukum, sebuah daerah, bahkan sebuah negara. 

Pada akhirnya, saya hanya ingin  mengatakan; I love Philology.



* Tanggapan ini dibuat untuk memenuhi tugas baca matkul filologi semester 5, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts