03 October 2017


Definisi Filologi Secara Singkat


Secara sederhana, filologi adalah cabang ilmu yang mempelajari dan meneliti sebuah teks yang terdapat dalam naskah-naskah tulisan tangan. Namun secara lebih mendalam, filologi juga bisa diumpamakan sebagai sebuah kombinasi yang apik antara kritik teks, sejarah, dan linguistik.

Dikatakan demikian, karena pada proses pendalaman dan penelitian terhadap sebuah naskah, seorang filologis pasti menemukan ke tiga unsur tersebut. Dari mulai menganalisis kata perkata dalam teks, menerjemahkannya, menghubungkannya dengan konteks waktu dan  budaya saat teks tersebut ditulis, sampai membongkar pesan atau permasalahan yang ingin disampaikan penulis lewat naskah tersebut, semuanya berhubungan dengan tiga aspek tadi. Singkatnya, ketiga aspek ini -kritik teks, sejarah dan linguistik- merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan di dalam dunia filologi.

Dalam fungsinya, filologi bisa diumpamakan sebagai cara atau alat. Yakni alat untuk memahami teks dan konteks, juga meneliti keabsahan dan karakteristik sejarah teks tersebut. Dengan memahami hal demikian, dapat disimpulkan bahwa setidaknya seorang filologis mempunyai dua tugas atau dua “gol” tersendiri dalam penelitiannya.

Pertama; menyajikan teks yang siap baca. Maksudnya adalah menyalin dan mempublikasikan naskah yang telah diteliti, sehingga mudah diakses dan dibaca oleh siapa saja.

Kedua; menafsirkan teks. Maksudnya adalah menghadirkan makna dari naskah yang diteliti sesuai dengan konteks lokal yang mempengaruhinya, sehingga pesan dan masalah yang ada dalam naskah tersebut mampu dengan mudah difahami oleh khalayak umum.



Sejarah Singkat Perkembangan Filologi di Indonesia


Secara umum, perkembangan sejarah dunia manuskrip di Indonesia dibagi menjadi tiga fase. Fase sebelum abad ke 14, fase antara abad 14 sampai dengan abad 19, dan fase sesudah abad 19.

Pada fase sebelum abad ke 14, manuskrip-manuskrip yang ada di Indonesia masih dipengaruhi oleh budaya-budaya agama hindu dan budha baik dari segi isi kandungan maupun cerita sejarahnya. Aksara dan bahasa manuskrip yang berkembang pada era ini pun masih dipengaruhi dengan kebudayaan hindu dan budha tersebut. Sebut saja palawa, jawa kuno, kawi, sanskerta, dan lain sebagainya.

Pada fase selanjutnya yakni antara abad ke 14-19, perkembangan naskah-naskah kuno ini mulai dan telah dipengaruhi oleh kebudayaan islam. Mengingat bahwa pada era ini pula, islamisasi sedang mencapai puncak kejayaan dalam penyebarannya. Banyak sekali pembaharuan yang dibawa Islam terhadap kebudayaan Indonesia saat itu. Diantaranya adalah penggunaan bahasa arab. Dan karena hal ini pula, penulisan-penulisan naskah dengan Bahasa Arab sangatlah populer, bahkan aksara bahasa arab tersebut dinaturalisasi menjadi aksara nusantara, sehingga lahirlah aksara jawa pegon, sunda pegon dan lain sebagainya.

Kemudian pada fase berikutnya, yakni abad ke 19 dan setelahnya, perkembangan manuskrip juga mulai dipengaruhi oleh kolonialisme. Sehingga masuklah bahasa-bahasa latin, kebudayaan Kristen, dan lain sebagainya.



Dari ketiga fase tersebut, perkembangan kajian filologi sebenarnya mulai muncul pada fase yang ketiga yakni pasca kolonialisme. Para penjajah dan sarjana-sarjana eropa sangat tertarik dengan kebudayaan dan bahasa yang ada di nusantara khususnya Indonesia. Sehingga penelitian di bidang filologi terhadap manuskrip-manuskrip di Indonsia pun mulai gencar dilakukan. Meskipun awalnya masih sederhana; hanya fokus pada penerjemahan saja, namun lambat laun terus berkembang dan semakin pesat; seperti penyusunan kamus Bahasa melayu, Bahasa Jawa, dan lain sebagainya.

Meskipun pada awalnya hanya digeluti dan dipelopori oleh sarjana-sarjana eropa, namun menjelang awal abad 20 sarjana-sarjana pribumi pun mulai banyak yang melakukan penelitian dan kajian terhadap filologi dan manuskrip-manuskrip nusantara tersebut. Semakin kesini, konsep filologi semakin matang dan saling bersinergi dengan konsep-konsep disiplin ilmu yang lainnya, seperti ilmu sastra dan sejarah. Pelan tapi pasti, filologi mulai populer di kalangan akademisi sehingga lumayan banyak diminati dan digeluti, hingga lahirlah konsep filologi seperti yang sudah kita ketahui sekarang ini.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts