30 October 2017









Senin pagi, 23 Oktober 2017, saya bersama kawan-kawan kelas 5 B pergi mengunjungi Perpustakaan Nasional (perpusnas) yang teletak di Jl. Medan Merdeka Selatan, RT.11/RW.02 Gambir, Jakarta Pusat, DKI Jakarta. Lokasi gedung ini tepat berada di sebrang Monumen Nasional (Monas). Kunjungan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam pembelajaran mata kuliah Filologi yang dibimbing langsung oleh Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Prof. Dr. Oman Fathurahman. M.Hum.. Selain untuk memperkenalkan manuskrip-manuskrip yang tersimpan di perpusnas secara langsung, kunjungan ini -saya rasa- juga bertujuan untuk menarik minat dan membuka mata para mahasiswa agar lebih mencintai dan  membiasakan diri untuk “bermain” ke perpustakaan nasional, guna “bercumbu” bersama koleksi buku yang tersimpan rapi di dalamnya; baik buku seputar ilmu pengetahuan umum,  ataupun mempelajari buku-buku dan koleksi yang membahas seputar manuskrip secara khusus.


            Banyak sekali pengetahuan dan pengalaman baru yang saya dapatkan dalam kunjungan tersebut. Meskipun sebenarnya -saya yakin- masih banyak hal yang belum mampu saya rangkum dan saya cerna secara mendalam karena banyaknya keterbatasan yang saya miliki. Oleh karenanya, saya mencoba menyampaikan rangkuman sederhana tersebut dalam beberapa poin yang akan saya paparkan berikut ini; 

1.    Perihal Perpusnas


Sejarah Singkat
            Sebagaimana dijelaskan oleh Pak Didi Purwanto, -salah satu petugas yang menemani pengunjung di ruang pameran depan gedung- pada awal berdirinya, perpusnas sendiri dipelopori oleh berdirinya  Bataviaasch Genootschap pada tahun 1778. Dari sinilah cikal bakal perpustakaan nasional lahir dan berkembang sampai seperti sekarang ini. Dan juga, awalnya gedung perpusnas bertempat di Jl. Salemba, daerah Senen, Jakarta Pusat, kemudian pada tanggal 14 September 2017 kemarin, perpusnas secara resmi dipindah ke gedung yang kami kunjungi kemarin, tepatnya di Jl. Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat. Perpindahan ini pun langsung diresmikan oleh Presiden Rebublik Indonesia, Joko Widodo.

Gedung

            Gedung yang baru diresmikan ini memiliki 24 lantai, -belum termasuk basement dan lantai atas-  sarana dan prasananya pun dilengkapi dengan fasilitas yang sangat luar biasa. Di lantai pertama, kita disuguhi dengan koleksi buku yang disusun tinggi sampai ke lantai 4. Karena memang dari lantai 1 sampai lantai 4 disediakan eskalator yang menyambung ke setiap lantai. Di lantai kedua, terdapat layanan pendaftaran untuk menjadi anggota resmi perpusnas, di lantai ketiga disediakan pameran-pameran foto dan lukisan, dan di lantai empat ada kantin umum. Kemudian dari lantai lima ke atas, menjadi tempat koleksi buku-buku dan ruang perkantoran. Menurut Pak Didi sendiri, khusus untuk koleksi berbagai manuskrip, para pengunjung bisa mengaksesnya langsung di lantai 9. Sungguh megah sekali, hemat saya.

            “Untuk bangunan jenis perpustakaan, gedung ini merupakan gedung perpustakaan tertinggi di dunia.” Tutur Pak Didi di sela-sela penjelasan singkatnya perihal gedung perpusnas.

Koleksi Manuskrip dan Akses

            Sebagaimana disampaikan oleh Pak Aditia Gunawan, seorang filolog dan ahli Bahasa Sunda Kuno, bahwa manuskrip di dunia yang berhasil didata dan   dikumpulkan kira-kira berjumlah 33.000 manuskrip. Sekitar 18.000 manuskrip telah tersimpan di perpustakaan Leiden Belanda, sekitar 4.000 manuskrip tersebar di berbagai perpustakaan di dunia, dan sekitar 11.147 manuskrip berada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Secara garis besar, koleksi-koleksi ini masih bisa diakses secara langsung, dan sebagian yang lain sudah dalam bentuk digital karena kondisinya yang sudah agak memprihatinkan jika diakses langsung.
            Selain itu pihak perpusnas juga memudahkan pencarian data-data judul mansukrip yang ingin diakses oleh khalayak umum melalui website resmi perpusnas di perpusnas.go.id dan website pencarian koleksi di opac.perpusnas.go.id.. Di samping itu, akses yang memudahkan pencarian data koleksi manuskrip beserta keterangan penelitiannya adalah akses melalui onesearch.id

2.        Menyoal Aksara Nusantara

            Tepat di depan gedung perpusnas, ada bangunan kecil yang berfungsi sebagai tempat pameran. Disini dipamerkan sedikit koleksi manuskrip, benda sejarah, dan beberapa pameran materi yang menceritakan kronologi perkembangan aksara di Nusantara. Setidaknya, ada beberapa hal penting yang bisa kita fahami dari ruang pameran tersebut, yakni sbb;

Definisi
            Sederhananya, aksara adalah simbol visual yang yang tertera pada kertas atau media lainnya, seperti batu, kayu, kain dan lain-lain. Aksara berfungsi sebagai ungkapan ekpresif dalam suatu bahasa. Konon, aksara berasal dari bahasa sanskerta yang berarti “tidak termusnahkan” atau “kekal”. Dikatakan demikian, karena aksara memiliki peran yang sangat penting dalam mendokumentasikan dan mengabadikan suatu peristiwa komunikasi dalam bentuk tulis.

Sejarah Singkat Aksara Nusantara.


            Secara umum sejarah aksara di Nusantara terbagi menjadi tiga fase. Fase-fase inilah yang mempengaruhi, aksara, gaya bahasa, dan meteri yang tertuang dalam manuskrip Nusantara. Fase-fase tersebut adalah sebagai berikut;
Fase 1, Era Hindu-Budha
            Pada era ini, aksara yang berkembang adalah aksara pallawa dalam Bahasa Sanskerta. Materi-materi dalam naskahnya pun bersumber pada kebudayaan dan agama dari India, yakni Hindu dan Budha. Hal ini terbukti dengan ditemukannya prasasti Yupa di Kalimantan Timur yang diketahui berasal dari abad ke-5. Menjelang abad ke-7, aksara pallawa pun mengalami proses modifikasi, sehingga disebut dengan aksara pallawa akhir. Aksara ini berkembang di Jawa dan Sumatera seiring berkembangnya agama Budha dan Hindu pada masa itu, terlebih pada masa kerajaan Sriwijaya.

Fase 2, Era Islam
            Seiring dengan masuk dan berkembangnya Agama Islam di Nusantara, maka kebudayaannya pun perlahan tapi pasti ikut berkembang di Nusantara. Pada era ini, aksara Arab mulai berkembang sekaligus menggantikan posisi aksara Pallawa, khususnya di daerah melayu, dan daerah pesisir. Adapun daerah-daerah Jawa, Bugis, dan Sunda, aksara arab tersebut belum menggantikan posisi aksara daerah, namun sering dipakai di waktu yang bersamaan. Dan lambat laun, aksara arabpun mulai mengalami kulturasi sehingga berkembang menjadi aksara jawi, pegon, dan lain-lain.
Fase 3, Era Eropa
            Era ini terjadi pada abad ke-16 dimana proses latinisasi berkembang sangat pesat di dunia dan merambak ke Nusantara. Khususnya pada abad ke-19 dimana mulai berkembangnya percetakan. Tokoh-tokoh penting dalam masuknya aksara latin ke Nusantara adalah kiprah para misionaris yang gencar-gencarnya menyeberkan ajaran mereka, bahkan mereka mulai menyalin Al Kitab ke dalam aksara dan Bahasa Latin.

Ketiga Fase inilah yang menghasilkan varian-varian aksara yang berbeda di wilayah nusantara untuk menuliskan bahasa daerah masing-masing. Akasara-aksara tersebut dimodifikasi sedemikian rupa untuk disesuaikan dengan logat bahasa-bahasa daerah tersebut. Seperti aksara Batak, Sumatera Selatan, Makasar Kuno, dan Sunda Kuno, yang merupakan aksara penyesuaian dari aksara India. Tak hanya dari aksara India, penyesuaian ini juga dipengaruhi oleh aksara Arab, seperti aksara Jawi untuk penyesuaian aksara Arab dalam bahasa Melayu dan Sumatera. Juga aksara pegon untuk penyesuaian aksara Arab dalam bahasa Jawa, Sunda dan Madura.
            Aksara-aksara yang berkembang di Nusantara diantaranya adalah aksara Buda, Bugis, Pallawa, Sunda Kuno, Bali, Kawi, Jawi, Jawa Pegon, Sunda, Sunda Pegon, dan lain sebagainya.


Media Tulis Aksara Nusantara
            Pak Aditia Gunawan, juga menjelaskan bahwa manuskrip bukan hanya kertas. Manuskrip juga bisa berupa kayu, bambu, bahkan daun, Berikut ini adalah media-media tulis yang berkembang di Nusantara;
Bambu

            Salah satu media tulis yang berkembang sebelum adanya kertas adalah bambu. Baik batang bambu secara utuh, ataupun bilahan-bilahan bambu. Tentu saja tidak semua jenis bambu bisa dijadikan media tulis, ada kriteria-kriteria khusus untuk memilah jenis bambu yang dapat digunakan. Beberapa manuskip yang ditemukan dalam media bamboo diantaranya manuskrip-manuskrip yang berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sunda Kuno.

Kulit Kayu

            Tentu kita tahu bahwa kertas berasal dari kayu. Namun yang dimaksud kayu di sini adalah kayu yang memang masih berwujud kayu atau kulit kayu. Salah satu media tulis dari bahan kulit kayu yang terkenal adalah Daluwang, dan kulit alim. Daluwang digunakan oleh masyarakat Jawa, Melayu, dan Sunda. Sedangkan kulit alim digunakan oleh masyarakat batak.

Daun

            Media tulis yang terkenal dari bahan dasar daun adalah daun lontar dan gebang. Tentu saja, daun-daun ini memang memiliki tekstur yang memenuhi kriteria untuk dijadikan media tulis. Manuskrip dalam media daun lontar berasal dari Jawa Kuno, Sunda kuno, Bali, Bugis, dan Lombok. Sedangkan media gebang berasal dari Jawa Kuno dan Sunda Kuno.

Kertas

            Ada dua jenis kertas yang dipakai dalam penulisan manuskrip nusantara. Yakni kertas China dan kertas Eropa. Kertas ini mulai dipakai dan menyebar luas menjelang abad ke-3, dan daerah yang menggunakan kertas ini adalah Melayu, Jawa, Sunda, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua Barat.
            Setelah kertas China, kertas yang berkembang dan memiliki kualitas yang lebih baik adalah kertas Eropa. Diantara kelebihan kertas Eropa adalah kandungan informasi dalam kertas tersebut, yang mana mampu menunjukan kapan kertas itu diproduksi dan dari daerah mana kertas itu berasal. Penulisan manuskrip dengan menggunakan media kertas Eropa berkembang di daerah Melayu, Jawa,  Sunda, Kalimantan, Sulawesi dan Papua Barat.


Reaksi:

1 comment:

  1. BOLAVITA SITUS JUDI ONLINE TERPERCAYA

    NEW MEMBER BONUS SPORTBOOK 10%

    NEW MEMBER BONUS LIVE KASINO 10%

    NEW MEMBER TEMBAK IKAN 10%

    NEW MEMBER SABUNG AYAM 10%

    NEW MEMBER TANGKAS GAME 10%

    ROLLINGAN KASINO LIVE ( BONUS RELOAD 0.7% )

    BONUS CASHBACK MINGGUAN SPORTS HINGGA 10%

    POTONGAN TOGEL ONLINE KLIK4D DAN ISINLIVE FULL

    BONUS REFERENSI KAWAN 7%


    Dan masih banyak lagi bonus-bonus lainnya yang bisa anda dapatkan.

    Tunggu Apalagi Langsung Daftar & Bermain bersama kami

    Untuk Informasi lebih lanjut silahkan Hubungi Customer Service kami :


    Boss Juga Bisa Kirim Via :
    Wechat : Bolavita
    WA : +62812-2222-995
    Line : cs_bolavita
    BBM PIN : BOLAVITA ( Huruf Semua )

    ReplyDelete

Total Tayangan

Popular Posts