29 December 2017

Gambar : www.satujam.com



BAB I  PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
            Sya’ir merupakan salah satu karya sastra yang paling digemari dan paling berkembang di Jazirah Arab. Permainan kata-katanya yang singkat namun memiliki makna yang mendalam menjadikan syi’ir sebagai salah satu karya yang memiliki pengaruh luar biasa terhadap berbagai aspek kehidupan. Pada zaman Nabi Muhammad Saw. misalnya, syi’ir dijadikan sebagai media pengobar semangat bagi kaum muslimin yang kala itu sedang berperang.
            Tidak dipungkiri bahwa semakin kesini, aspek internal dan eksternal dalam syi’ir sangat berkembang pesat, apalagi diiringi dengan perkembangan zaman yang signifikan. Syi’ir tidak hanya digunakan sebagai media hiburan, namun acap kali syi’ir juga dijadikan sebagai media dakwah, ataupun simbol dari sebuah kritik pada sistem pemerintahan yang bobrok, misalnya.
            Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata awal mula perkembangan ini terjadi pada masa Bani Umayah. Mengingat bahwa segala aspek pengetahuan juga setidaknya bercikal bakal pada era ini. Oleh karenanya, makalah inipun hadir guna mengupas perkembangan syi’ir pada era Bani Umayah.
B.       RUMUSAN MASALAH
1.        Faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sastra pada masa Bani Umayah?
2.        Bagaiamana corak dan karakteristik puisi pada masa Bani Umayah?
3.        Siapa saja Sastrawan terkenal pada masa Bani Umayah?

C.      TUJUAN MASALAH
1.        Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perkembangan sastra pada masa Bani Umayah?
2.        Untuk memberikan gambaran tentang corak dan karakteristik puisi pada masa Bani Umayah?
3.        Untuk memperkenalkan para sastrawan yang terkenal pada masa Bani Umayah.

BAB II PEMBAHASAN

A.  Perkembangan Sastra Pada Masa Bani Umayah
Imperium Bani Umayyah berlangsung kurang lebih selama 91 tahun (661 – 750 M). Pada hakikatnya masa pemerintahan Bani Umayyah merupakan pemerintahan yang penuh dengan kegoncangan. Seperti terjadinya pertikaian politik yang hebat antara Bani Umayyah dengan musuh-musuhnya, pemberontakan terhadap penguasanya, dan pada pada periode ini pula beberapa firqoh (golongan)  dalam islam seperti syi’ah, khawarij, murjiah dan sebagainya, mulai berkembang dengan pesat. Hal ini tidak saja berpengaruh pada dinamika kehidupan masyarakat daulah Bani Umayah pada umumnya, namun juga sangat mempengaruhi pada aktifitas sastra yang dilakukan. Mengingat bahwa Jazirah Arab secara umum adalah para penggiat sastra yang sangat produktif, sehingga karya sastra pada periode ini cenderung diwarnai oleh nuansa politis dimana masing masing firqoh berlomba-lomba membuahkan produk sastra demi mendukung pemikiran mereka. [1]
Menurut Inna Zahratunnisa dalam artikelnya yang berjudul “Sastra Pada Zaman Bani Umayyah”, ada beberapa faktor internal dan eksternal yang melatarbelakangi lahirnya kegiatan bersastra pada masa Bani Umayyah, diantaranya:
1. Faktor internal
a)      Futuhat (penyebaran islam) awal yang telah menyebabkan kekuasaan islam meliputi penduduk-penduduk non-arab, dan banyak dari mereka yang telah masuk islam.
b)      Para khalifah Umayyah sendiri memang menggemari puisi, dan mereka memberi hadiah-hadiah besar kepada para penyair yang mencipatakan puisi-puisi pujian bagi mereka, atau penyair-penyair yang menghasilkan puisi-puisi yang indah.
2. Faktor eksternal
Berikut ini adalah faktor-faktor eksternal perkembangan sastra pada masa Bani Umayyah :
a)      Munculnya partai politik, sehingga setiap golongan atau partai memiliki penyair yang mendukung dan membela partai politiknya.
b)      Kembalinya rasa fanatisme kesukuan diantara kaum muslimin pada waktu itu.
c)      Munculnya persatuan dari sebagian penyair dan puisi sebagai sarana mencari penghidupan.
d)     Persaingan antara para penyair untuk menjadi penyair yang paling unggul dan berkualitas sehingga mereka mendapat hadiah atau imbalan dari khalifah atau para pemimpin satu golongan atau satu partai.
e)      Munculnya majelis kritik sastra yang bisa menimbang puisi dan menganalisisnya. Akhirnya para kritikus ini menempatkan satu penyair diatas yang lain yang berimplikasi dengan usaha para penyair untuk memperbaiki puisinya agar tidak menjadi bahan pelecehan bagi para kritikus.

            Di samping itu, kondisi-kondisi umum pada masa Umayyah juga mempengaruhi corak dan perkembangan sastra pada masa Bani Umayyah. Kondisi tersebut adalah sbb;

a) Kondisi agama

            Pada masa Umayyah kita dapat melihat cikal bakal gerakan-gerakan filosofis keagamaan yang berusaha menggoyahkan pondasi agama islam. Yaitu yang pertama pada abad 8, di  Basrah hidup seorang tokoh yang terkenal bernama Washil Ibnu Atho’seorang pendiri madzhab rasinalisme kondang yang di sebut Mu’tazilah. Orang mutazilah (pembelot, penentang) karna mendakwahkan ajaran bahwa siapapun nyang melakukan dosa besar dianggap telah keluar dari barisan orang yang beriman, tapi tidak menjadikan kafir, dalam hal ini orang berada dala kondisi pertengahan antara kedua status itu. Kelompok kedua; Qodariyah. Aliran ini terkenal dengan pemikiran Free Will dan Free act (kebebasan berkehendak dan berbuat). Ketiga ; Khowarij, yang berpandangan bahwa orang berbuat dosa besar adalah kafir dan wajib di bunuh. Keempat Syi’ah, merupakan salah satu dari dua kubu islam pertama yang berbeda pendapat dalam persoalan kekholifahan. Para pengikut Ali ini membentuk kelompok yang solid pada masa dinasti Umayyah. Sistem imamah kemudian menjadi unsur pembeda antara kaum sunni dan kaum syiah.  Kelima Murjiah yang berpendapat bahwa orang berdosa besar tetap masih mukmin dan bukan kafir. Permasalahan dosa yang dilakukan dikembalikan pada Allah SWT untuk mengampuni atau tidak.

b) Kondisi sosial

            Pada masa pemerintahan Umayyah kondisi sosial di bagi menjadi empat 4 kelas sosial. Kelas tertinggi, kelas ini biasanya diiisi oleh para penguasa islam. Kedua, tingkatan di bawahnya, tingkatan ini diisi oleh para muallaf yang masuk islam. Golongan yang ketiga adalah golongan para sekte-sekte dan para pemilik kitab suci atau di sebut juga dengan ahl dzimmah, dan yang terakhir ke empat adalah golongan paling rendah yaitu golongan para budak.

c) Kondisi politik

            Pada masa pemerintahan Umayyah, tiga partai politik (zubariyin, khowarij, dan syi’ah) telah membentuk seputar pemikiran atau persepsi tentang kekhalifahan yang lebih berhak dikalangan kaum muslimin. Adapun dalam partai politik Zubariyyin pengikut Abdurrohman Zubair memandang akan mengembalikan mengembalikan kekholifahan ke daereh Hijaz, dan akan memerintah salah satu sahabat di kalangan yang pertama, bukan Yazid Ibnu Muawiyyah. Sedangkan pertai politik Khowarij di Irak berpendapat akan mengembalikan kholifah pada kaum arab dan muslim untuk memerintah atas merekaorang-orang yang lebih pantas atas kepemimpinan itu.selain itu, partai politik Syi’ah juga ingin mengembalikan kekholifahan pada bani Hasyim, yaitu ahl bait Rasululloh dan para sahabat yang sebenarnya. Jadi pada masa pemerintahan Umayyah suasana politik sangat mendominasi penguasaan pada saat itu, sehingga banyak tercurahkan untuk menyelesaikan masalah politik.

d)  Kondisi sastra
            Kelahiran islam di tanah arab membawa pengaruh besar terhadap kesustrataan arab, diantaranya adalah sebagai berikut:
1.Penghapusan sebagai corak kesustrataan arab jahiliyyah.
2.Menciptakan suatu corak baru yang sesuai dengan islam.
3.Mengembangkan corak lama yang sesuai dengan islam.

Adapun yang dihapus oleh islam seperti puisi yang berupa mantra yang digunakan oleh dukun. Dan corak baru yang diciptakan oleh masa ini adalah timbulnya macam-macam cabang peraturan dan undang-undang sastra seperti ilmu‘Arud, balaghoh, ilmu nahwu dll. Sedangkan corak lama yang dikembangkan adalah dalam bidang puisi dan khutbah, karena keduanya ini sangat berpengaruh dalam perluasan dakwah islam.[2]

B.       Corak dan Karakteristik Puisi Pada Masa Bani Umayah
            Diantara semua jenis karya sastra dari mulai prosa, drama, dan lain sebagainya, kami rasa syi’ir memilik perkembangan yang paling meningkat dan luar biasa. Disamping sebagai media hiburan, kata-kata indah yang terkandung dalam syi’ir bisa juga menjadi sebuah alibi untuk tujuan-tujuan yang lain, karena tentu saja seperti yang telah dibahas sebelumnya, faktor eksternal juga mempengaruhi corak, jenis dan tujuan karya sastra yang dibuat, khususnya syi’ir atau puisi.
Karya sastra puisi mengalami banyak peningkatan pada masa ini, terutama dalam isi dan jenisnya yang berbau politik. Selain itu, faktor lain adalah adanya kebebasan yang diberikan oleh para pemimpin Bani Umayyah tentang tujuan puisi. Jika sebelumnya puisi yang berkembang pada masa Rasulullah SAW. hanya berisi pujian terhadap Rasul dan khulafaa al rasyidin, maka pada masa Bani Umayyah ini, fungsi sya’ir cenderung dikembalikan ke jaman jahiliyah, karena sya’ir-syair cinta berupa pengagungan terhadap kaum wanita hadir kembali, yang sebelumnya sudah dihapuskan di jaman Rasulullah SAW. Sedang keistimewaan puisi pada masa ini dilihat dari makna, ide, imajinasi, lafadz dan struktur kasidahnya

            Setidaknya ada empat poin penting yang menjadi ciri khas dari syi’ir / puisi pada masa bani Umayyah  yakni;
1)         Pengucapannya bersih, jernih dan tepat, karena dekat dengan zaman nabi. Hampir semua orang arab berbicara dengan gaya yang mendekati gaya             pra-islam dan gaya al-Qur’an.
2)         Khulafa al-rasyidin mengecam para penyair yang mengawali puisinya          dengan pujian terhadap wanita-wanita kesayangan mereka, sedangkan          khalifah-khalifah pada masa Bani umayyah tidak ketat dan mengizinkan hal          itu.
3)         Kritik dan sinisme bisa dikatkan tidak dikenal dalam puisi pra-islam,           meskipun terdapat permusuhan dan persaingan antar suku. Namun di masa    bani Umayyah, persaingan politis tidak hanya menggerakan  penyair dari      masing-masing pihak untuk berpopraganda tetapi juga membolehkan           para penyair itu untuk menyerang pihak lawan.
4)          Mulai melonggarnya moralitas para penyair dan bertambah banyaknya       penyair-penyair kristiani, telah menjadikan anggur sebagai salah satu            garapan puisi yang populer.


Menurut Faristin Ichsan ada tiga jenis puisi yang sangat populer pada masa ini, diantaranya :
a)    Puisi politik (syi’ir Siyasi)
Dalam puisi jenis ini, terdapat unsur yang mendukung suatu partai tertentu dalam menghadapi partai lawannya. Para penyair menjadi penyambung aspirasi resmi bagi setiap kelompok dengan makna-makna yang mengandung argumentasi agama dan kepentingan kelompok yang disampaikan dengan gaya bahasa yang tegas, kuat dan tajam.

b)   Puisi polemik (syi’ir Naqoid)
Puisi ini menggabungkan antara kebanggaan dan pujian. di mana satu individu membanggakan diri dan kaumnya sambil mencela dan mengejek individu lainya. Sebagai reaksi, individu yang dicela membalas dengan membela diri dan membanggakan kaumnya disertai dengan celaan bagi penyair lawannya.

c)    Puisi cinta (syi’ir Al-Ghazal)
Puisi ini merupakan pengungkapan seseorang yang sedang jatuh cinta. Puisi cinta ini ada dua jenis, yaitu puisi kebebasan cinta dan puisi murni tanpa hasrat. Puisi kebebasan cinta ini tersebar di daerah perkotaan yang menceritakan tentang sifat-sifat tubuh dan petualangan cinta.[3]


C.      Sastrawan Terkenal Pada Masa Bani Umayyah
            Menurut  Amalina Izzati Hanifah  dalam artikelnya yang berjudul “Perkembangan Sastra dan Ilmu Pada Masa Bani Umayyah” pada masa pemerintahan bani umayyah terdapat beberapa penyair yang cukup terkenal, diantaranya :

1.        Al-Akhtal
       Lahir di sebuah tempat bernama Hirah, dan sangat terkenal dengan puisi pujiannya kepada Bani Umayyah. Melalui puisinya, belaiu memuliakan Bani Umayyah dengan sifat sifat yang menunjukan bahwa Bani Umayyah merupakan para pemimpin dan pengantur Negara yang baik dan benar.

2.        Al-farazdaq
Nama lengkap Hammam bin Ghalib Abu Firas,  tetapi biasa dikenal sebagai al-Farazdaq.  Ia lahir di Kadhima (sekarssang Kuwait) dan tinggal di Basra. Farazdaq adalah salal satu di antara Penyair Muslim besar di Istana Kekhalifahan Bani Umayyah Timur, selain Jarir dan al-Akhtal. Ia adalah anggota Darim (dewan sesepuh) salah satu divisi paling terhormat di Bani Tamim, dan ibunya berasal dari suku Dabbah. Kakeknya Sa’sa’ adalah seorang Badui terkenal, ayahnya Ghalib mengikuti cara hidup yang sama hingga Bashrah didirikan, dan terkenal akan kelemah lembutannya. Pada usia 15, Farazdaq dikenal sebagai penyair, dan meskipun pernah diminta oleh khalifah Ali bin Abi Thalib untuk bercurah pada studi al-Quran, ia segera kembali membuat puisi.Dalam jiwa Badui yang sesungguhnya ia banyak mencurahkan bakat ke satir dan menyerang Bani Nahshal dan Bani Fuqaim. Saat Ziyad, anggota suku yang terakhir, menjadi gubernur Basra pada tahun 669, penyair itu dipaksa pergi, pertama ke Kufah, dan kemudian, karena masih dekat dengan Ziyad, ke Madinah, dimana ia masih diterima oleh emir kota itu, Sa’id b in al-’Ash. Ia tetap di sana hingga 10 tahun, menulis satir pada suku Badui, namun menghindari politik kota. Namun kehidupannya tidak keruan, dan syair-syairnya yang tajam menyebabkannya diusir oleh khalifah Marwan I. Tepat pada saat itu ia mengetahui kematian Ziyad dan kembali ke Bashrah, di mana ia dijamin oleh pengganti Ziyad Ubaidillah bin Ziyad. Sebagian besar puisnya sekarang bercurah ke urusan matrimonial.
       Puisinya dikenal kaya dengan ungkapan-ungkapan indah, diksinya yang unik, memiliki kedalaman makna serta cenderung mengikuti gaya puisi jahiliyah yang murni.

3.        Jarir
       Bernama lengkap Jarir ibn `Atiyah al-Khatfi al-Tamimi Al-Najdi .Ia lahir pada tahun 650 M ketika Islam berada pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ia berasal dari suku Kulaib, yakni bagian dari suku Bani Tamim. Ia lama tinggal di al-Yamamah, tetapi kemudian ia banyak menghabiskan waktunya di Damaskus.Di Damaskus inilalh, ia dikenal sebagai salah satu penyair satiris besar pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Timur berkat kedekatannya dengan al-Hajjaj bin Yusuf, salah satu Gubernur Irak. Kesastrawananannya menonjol dan populer ketika ia berpolemik dengan beberapa penyair Bani Umayyah lainnya, yakni Farazdaq (Muslim) dan al-Akhtal (Kristen).Sebagai sastrawan, ia banyak menikmati kehidupan bebasnya, terutama pada masa kekhalifahan Abd al-Malik, al-Walid I, serta Umar II. Ia wafat pada tahun 728 M.

4.        Umar ibn Abi Robi’ah
Nama lengkapnya yaitu Abu al khitob Umar ibn Abdillah ibn Abi Rabi’ah al Quraisy al Makhzumi. Dilahirkan di Madinah pada malam wafatnya sayyidina Umar ibn Khattab ra., ibunya nasrani dan ayahnya seorang pedagang yang kaya dan bekerja pada rasulullah serta pada tiga khalifah setelah Rasulullah.  Umar telah berpuisi sejak kecil, dia sering menggambarkan keadaan perempuan, saling mengunjungi perempuan dan saling bergurau bersama mereka. Para penyair pada masanya menjauhi jenis puisi ini karena ingin mendekatkan diri kepada Allah, dan menjaga eksistensi sastra arab islam, akan tetapi Umar ibn abi rabi’ah tetap berjalan pada jenis puisi jenis ini.

5.        Al-Kumait
Nama lengkapnya adalah Abu al musahhal al Kumait ibn Zais al Asadi al kufi, seorang penyair terkenal dari golongan syiah al hasyimiyah dan pendorong fanatime adnaniyah atas qathaniyah. Di lahirkan tahun 60 H dan tumbuh berkembang di kufah diantara kaumnya bani as’ad yaitu salah satu bani kabilah arab yang fasih dari bani mundhor, dia bisa menerima bahasa Arab, tahu tentang sastra hikayat dan ilmu nasab arab sejak kecil sudah senang berpuisi. Dia adalah penyair yang mengkhususkan diri dalam hal cerita tentang nasab. Al-Kumait termasuk dalam golongan penyair daerah. Puisi-puisinya banyak menggambarkan tentang celaan pada musuh-musuh Ali ibn Abi Thalib dan pujian-pujian pada ahli bait.

6.        Ibnu Ruqiyat
Nama lengkapnya adalah ubaidillah ibn qa’is.  ibnu ruqiyat dilahirkan di Makkah pada tahun 12 H (633 M) pada tahun 38 H dia dipindah ke Iraq. Akan tetapi ketika terjadi peperangan sengit diantara bani bakr dan bani taghlb dia pindah dari Iraq ke palestina, lalu kembali ke Iraq setelah itu.Ibnu Ruqiyat termasuk penyair dari partai Abdullah ibn Zubair. Dalam salah satu puisinya penyair ini menyatakan rasa kebenciannya yang mendalam terhadap golongan bani Umayyah atas segala kedzaliman yang dilakukan terhadap kaum muslimin pada masa itu.

7.        Al-Nabighah al-syaibhani
Bernama lengkap abu laila hasan qais ibn Abdullah al ja’diy al Amiry, salah satu pendahulu yang panjang umurnyad an salah satu penyair hadramain. Dia adalah salah satu penyair dari bani ja’dah ibn ka’ab ibn rabi’ah yang hidup pada masa jahiliyah dan masa awal islam.Dia tidak dapat berpuisi pada masa jahiliyah, akan tetapi pada masa awal islam dapat berpuisi sehingga mendapat julukan an nabighah. Dia mengikuti agama Ibrahim dan hidup lama pada masa islam sampai masa utsman ibn affan. Beliau terkenal sebagai penyair yang lihai dalam mendeskripsikan tentang kuda.[4]


.    Contoh Syair pada masa Bani Umayyah
Berikut ini adalah contoh puisi polemic pada masa bani Umayyah:

1. Jarir dalam Puisi Sastir Farazdaq
     Bait berikut ini menggambarkan pertikaian antara al-Farazdaq dengan Jarir. Bait ini didahului dengan prolog al-Farazdaq membanggakan kaumnya kemudian baru menyerang Jarir dan sukunya.

إن الذي سمك السماء بنى لنا # بيتا دعائمه أعز وأطول
بيتا بناه لنا الملك وما بنى # حكم السماء فإنه لا ينقل
بيتا زرارة محتب بفنائه # ومجاشع, وأبوا لفوارس نهشل
لايحتبي بفناء بيتك مثلهم # أبدا إذا عد الفعال الأفضل
ضربت عليك العنكبوت بنسجها # وقضى عليك به الكتاب المنزل 

Sungguh, yang telah meninggikan langit membangun sebuah rumah untuk kami 
yang tiangnya lebih kuat dan lebih panjang,
Sebuah rumah yang dibangun oleh raja untuk kami, 
dan Ia tidaklah membangun hukum langit, sungguh Ia tak bisa digemingkan
Sebuah rumah untuk Zararah sembari duduk dengan senangnya, dan untuk Majasyi’ dan Nahsyal
Selamanya, ia tidak dapat duduk dengan senang di rumahmu seperti di rumah mereka, 
kecuali bila yang baik-baik dihidangkan
Dibangunkan untukmu rumah laba-laba seperti tercantum di al-Kitab yang diturunkan


         Dalam bait yang lain, al-Farazdaq juga menyerang Jarir dengan tajam. Lihat potongan puisi berikut ini:

فإنك إذا تسعى لتدرك دارما # لأنت المعني يا جرير المكلف
تطلب من عند النجوم وفوقها # بربق وعير ظهره متفرق
أتى لجرير رهط سوء أذلة # وعرض لئيم للمخازي موقف

Maka sesungguhnya bila engkau berusaha untuk tahu sampai ke akar-akarnya, 
niscaya engkau terbalik wahai Jarir yang penuh beban,
Engkau meminta pada bintang dan yang di atasnya dengan tali dan garis 
sementara punggungnya tercerai
Jarir memiliki sifat keserakahan dan kehinaan, 
harga diri yang nista sangat cocok bagi orang yang mencari kehinaan.

           Bait berikut ini menggambarkan kehinaan suku Jarir. Bila dirasakan, puisi ini dapat membuat biru telinga bani Kulaib. Belum lagi rasa malu yang akan ditanggung oleh suku ini bila puisi al-Farazdaq didengar oleh suku lain.

ولو ترمى بلؤم بني كليب # نجوم الليل وما وضحت لسار
ولو يرمى بلؤمهم نهار # لدنس لؤمهم وضح النهار
وما يغدو عزيز بني كليب # ليطلب حاجة إلا بجار 

Walaupun gemintang malam dilempar dengan kehinaan Bani Kulaib, 
tidaklah bintang itu menjadi terang sementara kehinaan mereka tetap berlalu.
Walaupun siang dilempar dengan kehinaan mereka, 
maka ternodalah kehinaan mereka sementara siang semakin terang,
Dan tidaklah tetua Bani Kulaib bepergian kecuali untuk meminta kebutuhannya pada tetangga.


2. Farazdaq dalam Puisi Satir Jarir
         Jarir membalas ejekan al-Farazdaq dalam puisi berqafiyah ‘lamiyah’ di atas dengan puisi berqafiyah sama. Secara semiotik, dengan qofiyah ini, ia ingin menyamakan posisi dengan puisi al-Farazdaq. Sementara dengan maknanya, ia ingin membalik kenyataan yang dituduhkan kepadanya bahkan dengan cara menyikat langsung dua penyair lainya, yaitu al-Akhtal dan al-Baist. . Lihat bait berikut ini:

أعددت للشعراء سما ناقعا # فسقيت آخرهم بكأس الأول
لما وضعت على الفرزدق ميسمى # وضغا البعيث جدعت أنف الأخطل
أخزى الذي سمك السماء مجاشعا # وبنى بنائك في الحضيض الأسفل
ولقد بنيت أخس بيت يبتنى # فهدمت بيتكم بمثلي يذبل


إني انصببت من السماء عليكم # حتى اختطتفتك يا فرزدق من عل
أحلامنا تزن الجبال رزانة # ويفوق جاهلنا فعال الجهل
كان الفرزدق إذ يعوذ بخاله # مثل الذليل يعوذ تحت القرمل
إن الذي سمك السماء بنى لنا # عزا علاك فما له من منقل[

Saya telah menyiapkan pembunuh untuk para penyair, 
maka saya tuangkan yang paling buncit di antara mereka dengan kendi pertama
Ketika saya letakkan setrikaan di atas al-Farazdaq, menjeritlah al-Baits, dan saya potong hidung al-Akhtal,
Yang mengangkat langit menghinakan Majasy’, dan Ia membangun rumahmu di lembah yang paling bawah,
Engkau telah bangun rumah paling jelek dari yang pernah dibangun, 
maka saya hancurkan rumahmu seperti gunung yazbul
Sungguh, akan saya curahkan air dari langit untuk kalian 
hingga kulenyapkan engkau al-Farazdaq dari atas dengan sekejap
Mimpi-mimpi kami teguh bagaikan gunung dan kebodohan kami 
mengawang laksana kebaikan orang-orang bodoh
Adalah Al-Farazdaq, jika minta perlindungan pada pamannya, 
seperti orang hina yang berteduh di bawah pohon qormal
Sungguh, yang telah meninggikan langit telah membangun kemulian bagi kami di atas kemulian kalian 
dan tidaklah keputusannya bisa bergeming.

        Di lain kesempatan, ia menyerang al-Farazdaq dengan cara membalikkan fakta. Menurutnya, al-Farazdaq telah berusaha mati-matian menghancurkan Mirba’ untuk membunuh karakter Jarir. Akan tetapi, ia dibuat kecele karena justru Mirba’nya tetap jaya sepanjang masa. Kemudian ia membuka aib al-Farazdaq sebagai pecundang yang berbuat mesum dengan mendatangi kekasihnya secara tidak hormat. Hal ini tentu menjadi aib besar bagi orang Arab yang mendewakan keberanian dan kejantanan

زعم الفرزدق أن سيقتل مربعا # أبشر بطول سلامة يا مربع
Al-Farazdaq mengklaim bahwa ia bisa menghancurkan riwayat Jarir (dikenal dengan mirba’), 
alangkah bahagianya dengan kejayaan mirba’ itu.

         Dan
يوصل حبليه اذا جن ليله # ليرقى الى جارته بالسلالم
هو الرجس يا أهل المدينة فا # حذروامداخل رجس بالخبيثات عالم

Dia mengikat dua talinya bila malam mulai kelam, 
lalu ia naik tangga menuju kekasihnya,
Dia adalah nista wahai penduduk kota maka berhati-hatilah 
karena ia tahu tempat-tempat masuknya kenistaan dengan kotoran/najis.[5]




BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
            Dari pemaparan diatas, kami dapat menyimpulkan :
1)      Bahwa bentuk karya sastra khususnya syair yang lahir pada masa Bani Umayyah sangat dipengaruhi oleh peranan politik, dimana pada masa kekuasaan umayyah muncul beberarapa golongan seperti syiah, khawarij, muhajirin dan lain-lain.
2)      Jenis puisi yang berkembang adalah puisi politik, puisi polemik dan puisi cinta.
3)      Para sastrawan yang lahir pada masa ini, dalam menciptakan karyanya sering mengangkat tema peperangan politik, membanga-banggakan golongan dan kekaguman akan hal cinta kepada kaum wanita.


DAFTAR PUSTAKA

al-Hasyimi, Ahmad, Jawahir al-Adab fi Adabiyyat wa Insya Lughat al-Arab, juz II, (Cairo: Dar al-Fikr, tt)
Iskandar, al-Wasith fi’l Adab al-Araby wa Tarikhih (Cairo: Dar al-Ma’arif, 1912).
Abdul Qadir, Zainal Abidin Haji, Muzakkirah fi Tarikh al-Adab al-Araby, (Kualalumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa, 1987)
al-Mursyid, Muhammad Ahmad, al-Adab wa al-Nusus wa al-Balaghah (Cairo: Dar al-Ma’arif, tt)
Siti Maryam (ed.), Sejarah Peradaban Islam (Yogyakarta: Lesfi, 2002).








         













                [1] Abdul Qadir, Zainal Abidin Haji, Muzakkirah fi Tarikh al-Adab al-Araby, (Kualalumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa, 1987)
                [2] Siti Maryam (ed.), Sejarah Peradaban Islam (Yogyakarta: Lesfi, 2002).
                [3] Muhammad Ahmad al Mursyid, al-Adab wa al-Nusus wa al-Balaghah (Cairo: Dar al-Ma’arif, tt)
                [4] Iskandar, al-Wasith fi’l Adab al-Araby wa Tarikhih (Cairo: Dar al-Ma’arif, 1912).
                [5] al-Hasyimi, Ahmad, Jawahir al-Adab fi Adabiyyat wa Insya Lughat al-Arab, juz II, (Cairo: Dar al-Fikr, tt)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts