30 December 2017

www.ulamaku.com

Menurut Goldziher, Sunnah dan hadis adalah dua konsep yang tidak identik (The two concepts are not identical). Sunnah adalah kebiasaan atau tradisi suci (sacred custom). Sementara hadis adalah dokumentasi dari sunnah. Melalui rangkaian sanad yang menurunkan informasi dari generasi ke generasi sejak sahabat, sunnah menjadi sebentuk norma-norma untuk aplikasi praktis dalam kehidupan.[1] Dalam pengertian Goldziher, hadis bercirikan berita lisan yang diklaim bersumber dari Nabi, sedangkan sunnah merupakan segala hal yang menjadi adat kebiasaan yang muncul pada abad kedua di awal pertumbuhan dan perkembangan Islam, terlepas dari apakah kebiasan itu ada hadisnya atau tidak.[2]

Menurut Goldziher, Islam sebagaimana agama Yahudi (Judaism) memiliki suatu teori tentang munculnya hukum suci di luar teks (an extrascriptural sacred law) merujuk pada hukum tertulis dan hukum yang ditransmisikan secara lisan.

Goldziher menolak keyakinan ulama Islam bahwa hadis bersumber dari Nabi SAW baik berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi SAW atas perbuatan sahabat.[3] Menurutnya, hadis tidaklah lebih dari produk perkembangan aspek keagamaan, sejarah dan sosial dalam Islam yang baru muncul sejak abab ke-2H.

Dengan demikian, Goldziher memiliki pandangan yang bertentangan secara diametral dengan para ulama hadis dan ushul fiqh. Karena para ulama hadis dan ushul fiqh memahami keduanya bersumber atau berasal dari Nabi, sementara Goldziher menegaskan bahwa hadis yang merupakan ilmu teoritis dan sunnah sebagai peraturan praktis, keduanya tidak bisa diklaim bersumber dari Nabi tapi hanya tradisi Arab kuno yang tetap terpelihara dalam kehidupan muslim.

Klaim Goldziher yang menegaskan bahwa hadis dan sunnah tidak bisa diklaim bersumber dari Nabi tapi hanya tradisi Arab kuno yang tetap terpelihara dalam kehidupan muslim, ditolak oleh ulama hadis. Karena eksistensi sunnah dan hadis secara teoritis dan praktis telah terbukti ada sejak masa Rasulullah SAW. Secara teoritis, sunnah dan hadis sebagai istilah yang spesifik telah digunakan secara eksplisit oleh Rasulullah SAW sendiri. Rasulullah SAW bersabda:

 }تركت فيكم أمرين، لن تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنتي {
“Aku tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnahku”.[4]


Adapun secara praktis, petunjuk dan teladan Rasulullah selalu menjadi rujukan sahabat dan pengikut sesudahnya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu sunnah adalah apa saja yang dikaitkan dengan Nabi SAW dan sinonim dengan hadis. Adapun para ulama dalam disiplin ilmunya masing-masing mendefinisikan hadis dalam perspektif keperluan bidang keilmuanya seperti ahli ushul, sunnah adalah segala hal yang datang dari Nabi (selain al-Qur’an), baik perkataan, perbuatan maupun taqrir yang pantas menjadi dalil hukum syari’at`. Hal ini karena konteks pembahasan mereka terkait sunnah sebagai sumber penetapan syari’at (masdar tashri’). Menurut ahli Fiqih adalah segala hal yang datang dari Nabi yang tidak berkaitan dengan fardاu dan wajib. Sunnah merupakan lawan bid`ah.[5] dalam realitas keilmuan, term sunnah lebih banyak dipakai oleh para ulama ushul fiqh, sementara term hadis, lebih banyak dipakai oleh ulama hadis.

Berikut ini adalah beberapa catatan atau pandangan Ignaz Goldziher tentang matn hadits:

Pertama, Ignaz Goldziher beranggapan bahwa hadits merupakan produk kreasi kaum muslimin belakangan, karena kodifikasi hadits baru terjadi setelah beberapa abad dari masa kehidupan Nabi.[6] Selanjutnya beliau mengatakan bahwa hadits yang membolehkan penulisan hadits  lebih banyak dari pada pelarangan hadits yang lebih mengandalkan hafalan. Ignaz mengemukakan data yang mengindikasi adanya penulisan hadits melalui periwayatan Abu Hurairoh “ tidak ada seorangpun yang hafal lebih banyak hadits selain aku, Namun Abdullah bin ‘Adh telah menuliskannya sedangkan aku tidak”.

Kedua,  Ignaz goldziher menganggap bahwa Hadits yang disandarkan pada Nabi Muhammad Saw dan para sahabat yang terhimpun dalam kumpulan Hadits - Hadits klasik bukan merupakan laporan yang autentik, tetapi merupakan refleksi doktrinal dari perkembangan politik sejak dua abad pertama sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Baginya, hampir-hampir tidak mungkin bahkan setipis keyakinan untuk menyaring sedemikian mungkin banyak materi Hadits, hingga dapat diperoleh sedikit sekali Hadits yang benar-benar orisinil dari Nabi atau generasi sahabat di awal Islam.  

Ketiga, Ignaz goldziher beranggapan bahwa tradisi penulisan Hadits sebenarnya merupakan pengadopsian dari gagasan-gagasan besar agama Yahudi yang didalamnya ada larangan atas penulisan aturan-aturan agama. Namun ternyata pemahaman yang keliru tersebut masih juga mendapat dukungan dari sebagaian kaum Muslimin sendiri walaupun bertentangan dengan fakta-fakta yang telah ada, menurut Ignaz, dukungan kaum Muslimin ini sebenarnya tidak bisa terlapas dari kepentingan ideologis, karena kaum Muslimin tidak memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw mencatat riwayat-riwayat selain al-Qur’an serta tidak ada bukti bahwa penulisan Hadits itu sudah terjadisejak awal Islam.[7]

Keempat, Ignaz Goldziher menyatakan bahwa redaksi/matan Hadits yang diriwayatkan oleh perawi-perawi Hadits dinilai tidak akurat, karena mereka lebih menitik beratkan pada aspek makna Hadits sehingga para ahli bahasa merasa enggan menerima periwayatan Hadits disebabkan susunan bahasanya tergantung pada pendapat perawinya.

 Ignaz Goldziher juga beranggapan bahwa penelitian Hadits yang dilakukan oleh ulama klasik tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah karena kelemahan metodenya. Hal itu karena para ulama lebih banyak menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metoda kritik baru yaitu kritik matan saja.[8] Sehingga menurutnya, banyak ditemukan Hadits yang semula dianggap shahih ternyata palsu. Adapun contoh kritik Goldziher terhadap Hadits antara lain Hadits berbunyi :

وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ ،مسجد الحرام، ومسجدي وَمَسْجِدِ الأَقْصَى
                                     “tidak diperintahkan pergi kecuali menuju tiga masjid, masjid al-haram, masjid Nabawi, Masid Al-aqsho.


            Keraguan Goldziher Pada Penulisan Hadits
Goldziher tampak sepakat dengan pandangan sementara pemikiran muslim yang menyatakan bahwa penulisan hadits telah dilakukan sejak generasi pertama islam. Bentuk dari hasil penulisan tersebut adanya naskah-naskah  yang dinisbahkan kepada beberapa sahabat yang disebut shohifah. Kesepakatan Goldziher terletak pada pengakuan adanya naskah-naskah tersebut yang memuat hadits-hadits yang disandarkan kepada Nabi. Akan tetapi penulis awal dari naskah tersebut menjadi sesuatu yang perlu diragukan, apakah memang para sahabat itu yang melakukan penulisan ataukah orang-orang yang datang sesudahnya untuk mendapatkan legitimasi naskah itu dinisbatkan kepada diri sahabat. Tidak bisa dipungkiri, demikian goldziher menambahkan., bahwa generasi awal islam telah melakukan pemeliharaan terhadap peninggalan-peninggalan Nabi, baik al-Qur’an maupun sunnah Nabi. Tetapi hanya bersifat lisan semata, jika ada bukti tulisan yang memuat tentang hadis
kemungkinan buatan orang yang hidup sesudah mereka.

Menurut Goldziher, pengoleksian hadits dalam bentuk fikih sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang mengharapakan adanya suatu buku yang memuat tentang tuntunan Nabi dalam bidang Hukum dan keagamaan, maka Malik bin Anas mencoba menyusun kitab muwatha’ sebagai jawaban dari persoalan dan mpermintaan masyarakat ketika itu. Menurutnya, bentuk pengoleksian hadits pada masa ini menggunakan dua metode yakni musnad; suatu kompilasi hadits yang disusun berdasarkan urutan nama-nama periwayatannya, dan mushonnaf; suatu kompilasi hadits yang disusun berdasarkan topik atau tema bahasan. Dari kedua metode yang digunakan , tampaknya metode mushonnaf  lebih banyak diminati oleh para ulama seperti kutub assittah.[9] Bagaimanapun, Goldziher mengakui keberhasilan umat islam dalam menyusun kitab-kitab hadits yang merupakan hasil upaya kritik hadits yang dilakukan para ulama terwujud dalam kitab kutub assittah. Termasuk Malik bin Annas dengan kitab Muwatho’ yang memuat hadits-hadits fikih secara sistematis. Meskipun menurut Goldziher kandungan didalam kitab Malik bin Anas tersebut tidak lain memuat tradisi kebiasaan masyarakat madinah, sebagai tempat munculnya sunnah.

            Kesimpulan

Dari pembahasan ini, dapat disimpulkan beberapa hal, antara lain;

            Posisi intektual Ignaz Goldziher dalam keilmuan hadis orientalis sangat tinggi dan karya-karyanya terutama Mohammedanische Studien yang diterjemahkan menjadi Muslim Studies menjadi rujukan utama dalam studi hadis di Barat hingga dewasa ini.

            Historisitas dan autentisitas hadis dan sejarah hadis menjadi objek utama yang dikritisi oleh para orintalis khususnya Ignaz Goldziher. Melalui pendekatan skeptis dan kritis dalam pembacaan teks-teks keilmuan hadis melahirkan berbagai kesimpulan yang berbeda secara diametral dengan keyakinan ilmuwan hadis muslim selama ini.

            Beberapa pendapat penting Goldziher adalah;

a.       Dilihat dari asal-usul istilah Sunnah dan Hadis, keduanya berasal dari
terms paganis.

b.      Dilihat dari sejarah asal-usulnya, hadis dan sunnah tidaklah lebih dari
produk perkembangan aspek keagamaan, sejarah dan sosial dalam
Islam yang baru muncul sejak abab ke-2 H.

c.       Sejarah penulisan hadis dalam versi ahli hadis patut diragukan.

d.      Metode kritik matan membuktikan adanya pemalsuan hadis untuk
kepentingan kekuasaan yang selama ini diyakini sahih.

            Di antara ilmuwan hadis muslim kontemporer yang mengkritisi teori Goldziher adalah Mustafa Azami dan Mustafa al-Siba’I melalui penelusuran ulang terhadap argmumentasi yang dipakai sebagai dasar oleh Goldziher dan pembuktian teks-teks awal (manuskrip) yang menguatkan adanya pencatatan hadis sejak masa Rasulullah SAW.



[1] Ignaz Goldziher, Introduction to Islamic Theology and Law, (New Jersey: Princeton University Press, 1979, H 37-38.
[2] Ignaz Golziher dalam Idri, Studi Hadis, 311
[3] Al-Sakhawy. Fath al-Mughits Syarh Alfiyah al-Hadits, Vol. 1, ed. ‘Abd al-Karim
al-Khudhair dan Muhammad bin ‘Abd Allah Alu Fuhaid (Saudi: Maktabah Us{u>l al-Salaf, Cet.1,
1418 H), 10
[4] Malik bin Anas, Muwathta’, vol. 2 (Beirut: Daar ihya’ al-Turath, 1406 H), 889
[5] Al-Shaukany, Irshad al-Fuhul Ila Tahqiq al-Haq min ‘Ilm al-Usul, 186
[6] Muhammad Musthafa Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasianya, terj. Ali Mushtafa
Ya’qub, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994, hlm. 3.
[7] Ignaz Goldziher, op. cit., hlm. 182
[8] Ali Musthafa Ya’qub, Kritik Hadis, Pustaka Firdaus, hlm. 15
[9] Ignaz Goldziher, Muslim Studies, terj. S.M. Stern & C.R. Barber, (London: George Allen & Unwin, 1971), h.214
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Total Tayangan

Popular Posts